Minggu, 20 Mei 2012

Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia I


BUKU AJAR KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (KDM) I





BABI
KONSEP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

A.    Konsep Manusia
Konsep manusia dibagi menjadi dua bagian: Manusia sebagai makhluk holistik dan Manusia sebagai system.

1.      Manusia sebagai Makhluk Holistik
Manusia sebagai makhluk holistik mengandung pengertian, manusia makhluk yang terdiri dari unsur biologis, psikologis, sosial dan spritual, atau sering disebut juga sebagai makhluk biopsikososialspritual. Dimana, keempat unsur ini tidak dapat terpisahkan, gangguan terhadap salah satu aspek merupakan ancaman terhadap aspek atau unsur yang lain.
Ø  Manusia sebagai makhluk biologis, disebabkan karena:
·         Manusia terdiri dari gabungan sistem-sistem organ tubuh
·         Manusia mempertahankan hidup
·         Manusia tidak terlepas dari hukum alam (khususnya hukum perkembangan)
Ø  Manusia sebagai makhluk psikologis, karena:
·         Setiap individu memiliki kepribadian yang unik (sanguin, melankholik,dll)
·         Setiap individu memiliki tingkahlaku yang merupakan manifestasi dari kejiwaan
·         Setiap individu memiliki kecerdasan dan daya fikir
·         Setiap individu memiliki kebutuhan psikologis untuk mengembangkan kepribadian
Ø  Manusia sebagai Makluk sosial, karena:
·         Setiap individu hidup bersama dengan orang lain
·         Setiap individu dipengaruhi oleh kebudayaan
·         Setiap individu terikat oleh norma yang berlakuk dimasyarakat
·         Setiap individu dipengaruhi dan beradaptasi dengan lingkungan social
·         Setiap individu tidak dapat hidup sendiri perlu bantuam orang lain
Ø  Manusia sebagai makhluk Spritual karena:
·         setiap individu memiliki keyakinan sendiri tentang adanya Tuhan
·         setiap individu memiliki pandangan hidup, dan dorongan sejalan dengan keyakinan yang dipegangnya

2.      Manusia sebagai Sistem
Manusia ditinjau sebagai sistem, artinya manusia terdiri dari beberapa unsur/sistem yang membentuk suatu totalitas; yakni sistem adaptif, sitem personal, sistem interpersonal, dan sistem social
Ø  Manusia sebagai sistem adaptif, disebabkan:
·         Setiap individu dapat berubah
·         Setiap individu merespon terhadap perubahan
Ø  Manusia sebagai sistem personal, disebabkan:
·         Setiap manusia memiliki proses persepsi
·         Setiap manusia bertumbuh kembang
Ø  Manusia sistem interpersonal
·         setiap manusia berinteraksi dengan yang lain
·         setiap manusia memiliki peran dalam masyarakat
·         setiap manusia berkomunikasi terhadap orang lain
Ø  Manusia sebagai sistem social
·         setiap individu memiliki kekuatan dan wewenang dalam
·         pengambilan keputusan dalam lingkungannya; keluarga, masyarakat, dan tempat kerja

B.     Homeostatis dan Homeodinamik
Homeostatis ialah Pengaturan stabilitas dan adaptasi secara alamiah terhadap konsisi lingkungan sekitarnya secara terus menerus. Homeostatis terdiri dari homeostatis fisiologis dan psikologis.
Homeostatis fisiologis dikendalikan oleh sistem endokrin dan saraf otonom. Homeostatis fisiologis terjadi melalui proses pengaturan diri, kompensasi, umpan balik negatif, umpan balik ketidakseimbangan fisiologis.
1.      Sisten Pengaturan diri: pengaturan fungsi tubuh secara otomatis yang terjadi pada orang sehat, contohnya pada sitem pencernaan.
2.      Sistem kompensasi: reaksi tubuh terhadap ketidaknormalan yang terjadi didalamnya, misalnya saat lampu tiba-tiba mati maka mata akan dilatasi atau membesar untuk meningkatkan kemampuan visual terhadap gelap.
3.       Sistem umpan balik negatif: makanisme penyimpangan tubuh dari keadaan normal.
4.      Sistem umpan balik ketidakseimbangan fisiologis: Misalnya pada saat kita lari, maka jantung akan memompa/berdenyut lebih cepat untuk mengimbangi metabolisme yang lebih cepat.
Homeostasis psikologis berperan dalam keseimbangan emosional dan kesejahteraan mental yang didapat dari pengalaman hidup sehari-hari dan interaksi dengan orang lain, dan dipengaruhi oleh norma dan adat istiadat masyarakat. contohnya ialah menangis ketika orang lain kedukaan, tertawa ketika orang lain sedang bercerita sesuatu yang lucu.
Proses homeostatis dapat digambarkan sebagai berikut:
Homeodinamik ialah proses pertukaran energi secara terus menerus antara manusia dan tempat tinggalnya. Pada proses ini manusia berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk bertahan hidup. Homeodinamik mengikuti prinsip integralitas, resonansi, dan helicy
1.      Prinsip integralitas, prinsip dasar hubungan antara manusia dan lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan. Perubahan proses kehidupan ini terjadi secara kontinu karena adanya interaksi yang saling mempengaruhi antara manusia dengan lingkungannya.
2.      Prinsip resonansi, yaitu prinsip bahwa proses kehidupan manusia selalu berirama dan frekuensinya bervariasi, mengingat manusia memiliki pengalaman beradaptasi dengan lingkungan
3.      Prinsip helicy, yaitu prinsip bahwa setiap perubahan dalam proses kehidupan manusia berlangsung bertahap dan terdapat hubungan antara manusia dan lingkungan.
C.    Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
Kebutuhan dasar manusia ialah unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis dan psikologis untuk memper-tahankan kehidupan dan kesehatan.
Menurut Abraham Maslow dalam Teori Hierarki Kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar:
1.      Kebutuhan fisiologis (makan, minum, pakaian),
2.      Rasa aman
3.      Cinta kasih
4.      Harga diri, dan
5.      Aktualisasi diri

D.    Ciri Kebutuhan Dasar Manusia
·         Setiap manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama namun kebutuhan tersebut dirubah sesuai kultur dan keadaan
·         Setiap manusia memenuhi kebutuhannya sesuai dengan prioritas/ yang lebih penting
·         Setiap orang dapat merasakan adanya kebutuhan dan meresponnya dengan berbagai cara
·         Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan menghasilkan ketidakseimbangan
·         Kebutuhan dapat membuat seseorang berpikir dan bergumul memenuhi rangsangan internal dan eksternal
·         Kebutuhan saling berkaitan dengan beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi akan mempengaruhi kebutuhan lainnya.

E.     Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Dasar Manusia
Kebutuhan dasar manusia dipengaruhi oleh:
1.      Penyakit.Penyakit menyebabkan perubahan dalam memenuhi kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena fungsi organ tertentu memerlukan kebutuhan yang lebih besar dari biasanya.
2.      Hubungan keluarga. Hubungan yang baik antara anggota keluarga dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena saling percaya, dan kebahagiaan.
3.      Konsep diri, konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan (wholeness) bagi seseorang. Orang yang optimis mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat, sehingga kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan mudah
4.      Tahap Perkembangan. Setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhan dasar yang berbeda-beda karena setiap organ tubuh mengalami kematangan yang berbeda.

F.     Pendapat Beberapa Ahli Tentang Model Kebutuhan Dasar Manusia
1.      Virginia Henderson
Virginia Henderson (dalam Potter dan Perry, 1997) membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam 14 komponen berikut:
a.       Bernapas secara normal.
b.      Makan dan minum yang cukup.
c.       Eliminasi (buang air besar dan kecil).
d.      Bergerak dan mempertahankan postur yang diinginkan.
e.       Tidur dan istirahat.
f.       Memilih pakaian yang tepat.
g.      Mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan menycsuaikan pakaian yang dikenakan dan memodifIkasi lingkungan.
h.      Menjaga kebersihan diri dan penampilan.
i.        Menghindari bahaya dari lingkungan dan menghindari membahayakan orang lain.
j.        Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan, kekhawatiran, dan opini.
k.      Beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.
l.        Bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk membiayai kebutuhan hidup.
m.    Bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi.
n.      Belajar, mencmukan, atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada perkembangan yang normal, kesehatan, dan penggunaan fasilitas kesehatan yang tersedia.


2.      Jean Waston
Jean Waston membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam 2 peringkat utama:
a.       Kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah (lower order needs)
b.      kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi (higher order needs).









3.      Abraham Maslow
Teori hierarki kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan Abraham Maslow (dalam Potter dan Perry, 1997) dapat dikembangkan untuk menjelaskan kebutuhan dasar manusia sebagai berikut:
a.       Kebutuhan Fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, oksigen, cairan (minuman), nutrisi (makanan), keseimbangan suhu tubuh, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan tidur, serta kebutuhan seksual.
b.      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan: perlindungan fisik dan perlindungan psikologis.
-          Perlindungan fisik, perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup: Ancaman tersebut dapat berupa penyakit, kecelakaan, bahaya dan lingkungan, dan sebagainya.
-          Perlindungan psikologis, perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain, dan sebagainya.
c.       Kebutuhan rasa cinta serta rasa memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, mendapatkan kehangatan keluarga, memiliki sahabat, diterima oleh kelompok sosial, dan sebagainya.
d.      Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa pcrcaya diri, dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.
e.       Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya








BAB II


A.    Definisi Pertumbuh dan Perkembangan
Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat memeberikan pelayanan dari mulai manusia sebelum lahir sampai dengan meninggal, dalam merawat kasus yang samapun tindakan yang diberikan akan sangat berdeda karena setiap orang adalah unik, sehingga seorang perawat dituntut untuk mengerti proses tumbuh kembang.
Pertumbuhan dan perkembangan termasuk suatu proses yang paling berkaitan dan sulit di pisahkan
Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisik yang ditandai dengan bertambahnya ukuran berbagai organ tubuh yang disebabkan adanya penambahan perbesaran sel-sel tubuh, sedangkan perkembangan adalah suatu proses menuju terciptanya kedewasaan yang ditandai bertambahnya kemampuan atau ketrampilan yang menyangkut struktur tubuh yang berkaitan dengan aspek non fisik
Pertumbuhan ditandai dengan perubahan ukuran bagian badan anak, yaitu dari kecil menjadi besar. Sedangkan perkembangan ditandai oleh perubahan kemampuan, yaitu dari pengetahuan yang terbatas pada waktu lahir menjadi kaya akan kemampuan, seperti berjalan, berlari, tersenyum, berbicara, belajar, dan bergaul di kemudian hari.
Didalam mempelajari proses perkembangan manusia dengan tugas-tugas perkembangannya kita harus memahami dengan baik istilah seperti; belajar dan kematangan. Belajar adalah adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh dengan latihan atas dasar kematangan dari orang yang sedang belajar itu. Dan kematangan adalah kelengkapan dari pertumbuhan dan perkembangan fungsi-fungsi badan dan mental sehingga seseorang dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Mental adalah mengenai keadaan psikologis, yaitu mencakup pikiran, status emosional dan perilaku.

B.     Faktor Yang Mempengaruhi Proses Tumbuh Kembang
Tumbuh kembang merupakan hasil dari 2 faktor yang berinteraksi yaitu
1.      faktor herediter
2.      faktor lingkungan.


Manusia dalam tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kondisi:
1.      Fisik
2.      Kogniti
3.      Psikologis
4.      Moral
5.      Spiritual

C.    Prinsip Tumbuh Kembang
Tumbuh kembang merupakan proses yang dinamis dan terus menerus.
Prinsip tumbuh kembang
1.      Tumbuh kembang terus menerus dan komplek
2.      Tumbuh kembang merupakan proses yang teratur dan dapat diprediksi
3.      Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi
4.      Setiap aspek tumbuh kembang berbeda dalah setiap tahapnya dan dapat dimodifikasi
5.      Tahapan tumbang spesifik untuk setiap orang
Prinsip Perkembangan dari Kozier dan Erb
1.      Manusia tumbuh secara terus menerus
2.      Manusia mengikuti bentuk yang sama dalam pertumbuhan dan perkembangan
3.      Manusia berkembang menyebabkan dia mendapatkan proses pembelajaran dan kematangan
4.      Masing-masing tahapan perkembangan memiki karakteristik tertentu
5.      Selama bayi (infancy) dan balita merupakan saat pembentukan perilaku, gaya hidup, dan bentuk pertumbuhan.
Tumbuh kembang adalah Orderly (tertib) dan sequential tetapi juga terus menerus dan komplek.
1.      Setiap orang memiliki pengalam yang sama bentuknya
2.      Setiap bentuk dan tingkat perkembangan adalah khas
Tumbuh kembang memiliki pola teratur dan dapat diprediksi;
1.      Cephalocaudal (head to tail)
2.      Proximaldistal
3.      Symetrical
Tumbuh kembang berbeda dan terintegrasi. Contoh syaraf tumbuh khas atau berbeda karena berespon terhadap rangsangan yang berbeda. Perbedaan aspek dalam tumbuh kembang terjadi karena beda tahap, jumlah dan dapat dimodifikasi.
1.      Tulang tumbuh cepat pada tahun pertama, selama tahun sebelum sekolah pertumbuhan tulang melambat
2.      Bicara berkembang cepat pada usia 3 – 5 tahun
Tahapan tumbuh kembang spesifik untuk setiap orang. Keterampilan dan kematangan fisik dan psikologis berbeda dan khusus dari setiap orang

D.    Teori-Teori Tentang Tumbuh Kembang
Teori tumbuh kembang
1.      Psychoanalisa dari Sigmund Freud
2.      Psichososial dari Erik Erikson
3.      Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget
4.      Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg dan Carol Gilligan
5.      Perkembangan kepercayaan dari James Fowler
1        Psikoanalisa :
1        Oral (0-18 bulan), kesenangan berpusat pada mulut
2        Anal (8 bulan – 4 tahun), kesenangan pada anal
3        Phallic (3 tahun – 7 tahun), tertarik pada perbedaan jenis kelamin
4        Latency (5 tahun – 12 tahun)
Ø  meningkat peran sex
Ø  proses identifikasi pada orang tua
Ø  persiapan berperan sebagai orang dewasa dan menjalin hubungan
5        Genital (12 tahun – 20 tahun)
Ø  Menjalin hubungan dengan hetero seksual
Ø  Sexual pressures
2        Psikososial :
Berdasarkan pada 4 konsep utama
1.      Tahapan perkembangan
2.      Tujuan dan tugas perkembangan
3.      Krisis psikososial
4.      Proses koping
Tahapan perkembangan
1.      Basic trust vs mistrust
2.      Autonomy vs shame & doubt
3.      Initiative vs guilt (kesalahan)
4.      Industri vs inferiority
5.      Identity vs role confusion
6.      Intimacy vc isolation
7.      Generativity vs stagnation
8.      Ego integrity vs despair (putus asa)
Ø  Basic Trust vs Mistrust, (Infancy, 0-1 tahun)
Pada tahap ini bayi mencari kebutuhan dasarnya seperti kehangatan, makanan dan minuman serta kenyamanan dari orang lain dengan keyakinan bahwa setiap dia membutuhkan pasti ada orang yang akan memberikan maka tumbuh pada dirinya sendiri kepercayaan (trust). Mistrust disebabkan karena inkonsistensi, ianadequate atau unsafe care.
Perilaku positif
Ø  Kasih sayang
Ø  Gratification (kegembiraan, kegiarangan)
Ø  Recognition (pengakuan/penghargaan)
Autonomy Vs Shame & Doubt (Toddler, 1-3 tahun)
Ø  Motorik dan bahasa berkembang
Ø  Mulai belajar makan, berpakaian dan toilet
Ø  Orang tua yang overprotec atau terlalu tinggi pengaharapan terhadap anak akan menyebabkan anak shame & doubt (malu dan ragu)
Ø  Perilaku positif: tergantung kepada orang tua tetapi memmandang diri sendiri sebagai seseorang yang merupakan bagain dari orang tua
Initiative Vs Guilt, (Preschool, 4 – 5 tahun)
Ø  Kepercayaan diri tumbuh maka anak akan memiliki isisiatif
Ø  Pengekangan menyebabkan perasaan berdosa
Ø  Perilaku positif: menunjukan imajinasi, imitasi orang dewasa, mengetes realitas, anticipates roles (mengharapkan peran)
Industry Vs Inferiority (School age, 6 – 11 tahun)
Ø  Anak senang menyelesaikan ssesuatu dan menerima pujian
Ø  Anak tidak berhasil menyelesaikan tugasnya akan menjadi inferior
Ø  Perilaku positif: memiliki perasaan untuk bekerja atau melaksanakan tugas, mengembangkan kompetisi sosial dan sekolah, melakukan tugas yang nyata.
Identity Vs Role Confusion (Adolesence, 12 – 20 tahun)
Ø  Banyak perubahan yang terjadi pada fisik
Ø  Mencoba berperan dan apabila berhasil maka identitas akan terbangun akan tetapi apabila tidak akan terjadi kebingungan confusion
Ø  Perilaku positif: percaya pada diri sendiri (self certain), memiliki pengalaman sexual, comitmen terhadap ideologi/kepercayaan
Intimacy Vs Isolation ( Young adulthood 20 – 40 tahun)
Ø  Dewasa muda, membangun komitmen sehingga timbulah keintiman
Ø  Apabila tidak mampu membangun komitmen anak akan mengalami isolasi
Ø  Perilaku positif: menunjukan kemampuan untuk komitmen terhdap diri sendiri dan orang lain, memmiliki kemampuan untu mencintai dan bekerja
Generativity Vs Stagnantion ( Midle adulthood, 41 – 65 tahun)
Ø  Memikirkan keturunan (generasi)
Ø  Stagnasi disebabkan karena hanya memikirkan diri sendiri
Ø  Perilaku positif: produktif dan kreatif untuk diri sendiri dan orang lain
Ego Integrity Vs Despair (Late adulthood, 65 tahun – lebih)
Ø  Apabila orang dewasa tua tidak mampu membangun integritas egonya maka ia akan mengalami putus asa
Ø  Perilaku positif; menghargai kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang, menerima siklus hidup dan gaya hidup, menerima kematian

3        Teori perkembangan Piaget
Jean Piaget lebih menekankan kepada perkembangan kognitif atau intelektual. Piaget menyatakan perkembangan kognitif berkembang dengan proses yang teratur dengan 4 urutan/tahapan melalui proses ini:
1.      Assimilasi, adalah proses pada saat manusia ketemu dan berekasi dengan situasi baru dengan mengunakan mekanisme yang sudah ada. Pada tahap ini manusia mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru termasuk cara pandang terhadap dirinya dan duania disekitarnya
2.      Akomodasi, merupakan proses kematangan kognitive untuk memecahkan masalah yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan. Tahap ini dapat tercapai karena ada pengetahuan baru yang menyatu.
3.      Adaptasi, merupakan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan

Tahapan Perkembangan Piaget
Tahap
Usia
Tingkah laku yang signifikan
Sensorimotor
0 – 2 tahun
Perilaku preverbal, kegiatan motorik sederhana terkoordinasi, dapat mempersepsikan perasaan yang berbeda
Preoperasional
3 – 7 tahun
Egoscentrism: dapat menghubungkan konsep suatu benda dengan kenyataan, konsep elaborate (rumit/panjang), mengajukan pertanyaan
Concrete operation
7 – 11 atau 12 tahun
Pemecahan masalah: mulai mengerti hubungan seperti ukuran, mengetahuai kiri dan kanan, mempunyai penda[at atau sudut pandang
Formal operation
11 – 15 atau 16 tahun
Hidup dalam sekarang/nyata dan bukan sekarang/ tidak nyata, lebih mempokuskan kepada sesuatu yang mungkin, dapat menggunakan alasan ilmiah, dapat menggunakan logika





4        Robert J. Havighurst
Havighurst meyakini ada 6 periode atau tahap dari perkembangan.
a.       Infancy dan early childhood
b.      Middle childhood
c.       Adolesence
d.      Early Adulthood
e.       Middle Age
f.       Later maturity

Periode Havighurst dari 6 Tugas Perkembangan

Periode
Tugas
Infancy dan childhood
Belajar berjalan, belajar berbicara, belajar makan makanan cair, belajar mengontrol eleiminasi kotoran dari tubuh, belajar membedakan kelamin, menerima kestabilan psikologi, membentuk konsep sosial dan fisik yang sederhana, belajar berhubungan emosi dengan orang tua, saudara (sibling), dan orang lain, belajar membedakan benar dan salah, mengembangkan nurani
Middle childhood
Belajar keterampilan fisik yang penting dalam permainan, membangun perilaku yang menunjukan diri sendiri sebagai organisme yang berkembang. Belajar mendapatkan teman sebaya, belajar menilai peran feminim dan maskulin, mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan menghitung, mengembangkan konsep yang penting dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan nilai perasaan, moral, dan skala, mendapatkan kebebasan individu, mempertahankan perilaku dalam kelompok dan institusi.
Adolesence
Menerrima keadaan fisik dan menerima peran maskulin atau feminim, mengembangkan hebungan dengan jenis kelamin yang berbeda, memiliki ketidak tergantungan emosid engan orang tua dan orang dewasa lain, memiliki jaminan ekonomi sendiri, memilih dan mempersiapkan pekerjaan sendiri, mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep dalam kehidupan sipil, mempersiapkan perkawinan, dan kehidupan berkeluarga, mendapatkan nilai dan sistem etik yang harmoni dalam memandang dunia, memiliki keinginan dan menerima tanggung jawab perilaku sosial.
Early adulthood
Memilih teman hidup, belajar hidup dengan pasangan perkawinan, memulai berkeluarga, memiliki anak, mengatur rumah, mulai mendapatkan pekerjaan, memikirkan kepentingan umum, menemukan grup hobies
Midle age
Menerima peran sivil dan tanggung jawab sosial, membangun dan mempertahankan standar ekonomi kehidupan, membantu remaja memmiliki tanggung jawab, menggunakan waktu luang untuk mengembangkan kedewasaan, menerima dan menilai perubahan psikologis usia pertengahan, mengatur waktu sebagai orang tua
Late maturity
Menerima penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, menerima pensiun dan penurunan pendapatan, menerima kematian pasangan, membangun hubungan ekplisit dengan kelompok seusia, kegiatan sosial dan melakukan kewajiban sipil, membangun kepuasan kehidupan fisik

E.     Tumbuh Kembang Tiap Tahapan usia
1        Tumbuh Kembang Janin
Ø  Perkembangan bulan pertama sampai ke 2
Ada tonjolan di jantung dan bengkak dikepala, karena otak sedang berkembang. Jantung mulai berdetak, dan dapat dilihat detakannya pada suatu alat ultra sonic scan. Lesung pipit pada sisi kepala akan menjadi telinga. Dan terjadi pengentalan yang nantinya akan membentuk mata. Pada bagian atas badan akan terjadi pembengkakan yang akan membentuk tulang dan otot. Dan bengkak kecil menunjukan lengan dan kaki mulai tumbuh.


Ø  Perkembangan Embrio Bulan Ke 3
Pada tahap ini, bagian muka pelan-pelan mulai terbentuk. Mata terlihat lebih jelas dan mempunyai beberapa warna. Juga telah terbentuk mulut dengan lidah. Pada tahap ini calon tangan dan kaki mulai terlihat menonjol pada sisi lateral corpus dan distal. Selanjutnya akan terlihat garis-garis bakal terbentuknya jari-jari tangan dan kaki. Juga mulai terbentuk organ-organ dalam utama seperti jantung, otak, paru-paru, hati, ginjal, usus.
Ø  Perkembangan Embrio Pada Bulan Ke 4
Dua belas minggu setelah proses pembuahan, janin telah terbentuk sepenuhnya. Semua organ badannya, otot, lengan dan tulang telah lengkap. Janin mengalami pertumbuhan yang lebih matang. Saat minggu ke 14, denyut jantung berdetak lebih kencang dan dapat etrdengar menggunakan alat ultrasonic detector. Denyut jantung berdetak sangat cepat sekitar dua kali lebih cepat dari denyut jantung orang dewasa.
Ø  Perkembangan bulan ke 5-6
Pada masa ini janin tumbuh dengan cepat. Bagian tubuh tumbuh lebih besar sehingga badan dan kepala lebih proporsional. Garis-garis pada kulit jari kini telah terbentuk, sehingga janin memiliki sidik jari sendiri. Pada minggu ke 21 hingga minggu ke 25, anda akan merasakan gerakan janin untuk pertama kali. Pada mulanya akan terasa suatu denyutan atau sedikit peregerakan, dan mungkin terasa seperti gangguan pencernaan. Selanjutnya, anda akan merasakan janin anda menendang.
Ø  Perkembangan bulan ke 7-8
Janin kini bergerak dengan penuh semangat dan bereaksi terhadap sentuhan dan bersuara. Janin juga mempunyai kebiasaan untuk bangun dan tidur. Kebiasaan ini sering berbeda dengan kebiasaan anda. Ketika anda istirahat pada malam hari, janin mulai bangun dan menendang. Pada minggu ke 29, kelopak mata janin terbuka untuk yang pertama kali. Pada minggu ke 30, panjang janin normal Indonesia sekitar 33 cm.

Ø  Perkembangan bulan ke 9 sampai lahir
Pada minggu ke 35 terjadi proses penyempurnaan kulit, yang sebelumnya berkerut, pada tahap ini lebih lembut dan halus. Pada minggu ke 38, janin pada umumnya terbaring turun, siap untuk proses kelahiran. Kadang-kadang sebelum kelahiran, kepala berpindah masuk ke panggul dan disebut “masuk pintu atas panggul”, namun, terkadang kepala janin belum masuk pintu atas panggul sampai kelahiran dimulai.
2        Tumbuh Kembang Neonatus
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim.
a.       Intrinsik
Yaitu kemampuan yang telah ada sejak lahir melalui rangsangan-rangsangan dengan cara yang khas. Contoh: bayi akan tersenyum bilas dia diajak berbicara ibunya walaupun ia belum mengerti kata-kata yang diucapkan ibunya.
b.      Reflek
Yaitu suatu gerakan yang terjadi secara otomatis dan spontan tanpa disadari pada bayi normal.
Ø  Tonik neek reflek, Gerakan spontan otot kuduk pada bayi normal, bila ditengkurapkan akan scara spontan memiringkan kepalanya.
Ø  Rooting reflek, Bila jarinya menyentuh daerah sekitar mulut bayi maka ia akan membuka mulutnya dan memiringkan kepalanya kearah datangnya jari.
Ø   Grasping reflek, Bila jari kita menyentuh telapak tangan bayi maka jari-jarinya akan langsung menggenggam sangat kuat.
Ø  Moro reflek, Reflek yang timbul diluar kemauan/kesadaran bayi.
Contoh: bila bayi diangkat/direnggut secara kasar dari gendongan kemudian seolah-olah bayi melakuakn gerakan yang mengangkat tubuhnay pada orang yang mendekapnya.
Ø  Startle reflek, Reaksi emosional berupa hentakan dan gerakan seperti mengejang pada lengan dan tangan dan sering diikuti dengan tangis.
Ø  Stapping reflek, Reflek kaki secara spontan apabila bayi diangkat tegak dan kakinya satu persatu disentuhkan pada satu dasar maka bayi seolah –olah berjalan.
Tanda-tanda perkembangan bayi 0-3 bulan: Gerakan kasar Gerakan halus Bicara, bahasa, kecerdasan Bergaul dan Mandiri, Menggerakkan kedua tungkai dan lengan sama mudahnya ketika telentang Memberikan reaksi dan melihat kearah sumber cahaya. Mengeluarkan suara (mengoceh) Membalas senyuman
Stimulasi perkembangan bayi 0-3 bulan
·         Pengungkapan rasa cinta, kasih sayang dan rasa aman
Berbicara lembut, memeluk, membelai, mencium, menyanyikan lagu.
·         Menirukan ocehan, gerakan mimik anak.
Anak sering diajak bicara dan mendengarkan berbagai suara misalnya: suara burung, radio, kerincingan.
·         Melatih anak membalikkan badan dari terlentang ke telungkup
Ketika telentang anak dibuat agar memperhatikan benda yang menarik(berwarna, menyolok/berbunyi) benda itu kemudian digerakkan kesisi badannya, anak akan mengikuti benda itu sambil memiringkan badan, benda digerakkan terus agar anak berlatih membalikkan badannya.
·         Melatih anak mengangkat kepala dan memperhatikan benda bergerak. Gerakkanlah benda yang menarik dihadapan anak, ketika ia telungkup angkatlah benda itu ke atas, sehingga anak dilatih mengangkat kepalanya ketika memperhatikan benda itu.
·         Melatih anak menggenggam benda kecil
Sentuhlah pensil atau benda yang serupa pada punggung atau ujung jari tangan anak. Anak akan berlatih menggenggam benda tersebut.
Pada masa ini bayi dilengkapi dengan beberapa kemampuan yaitu intrinsik reflek.
3        Tumbuh Kembang Usia Pra Sekolah
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun ( Wong, 2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal pertumbuhan, Secara fisik anak pada tahun ketiga terjadi penambahan BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6 kg.penambahan TB berkisar antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm.
Kecepatan pertumbuhan pada tahun keempat hampir sama dengan tahun sebelumnya.BB mencapai 16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai dua kali lipat dari TB saat lahir.Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi sedikit.
Pertumbuhan pada tahun kelima sampai akhir masa pra sekolah BB rata-rata mencapai 18,7 kg dan TB 110 cm,yang mulai ada perubahan adalah pada gigi yaitu kemungkinan munculnya gigi permanent ssudah dapat terjadi.
Sementara tidak jauh beda dalam segi perkembangan, kemampuan beberapa aspek vital anak mengalami peningkatan-peningkatan signifikan dari tahun ketahun, diantaranya adalah Aspek motorik :
a.       Tahun ketiga
Anak mampu berdiri diatas satu kaki untuk beberapa detik,menaiki tangga dengan kaki bergantian,dan turun dengan dua kaki untuk melangkah,melompat panjang.Anak mampu menyusu balok menara 9-10 kotak.membangun jembatan dengan 3 kotak,mampu memasukkan biji-bijian kedalam kotak berleher sempit dengan benar dan dalam menggambar anak dapat meniru lingkaran dana silangan serta menyebutkannya.
b.      Tahun keempat
Anak sudah dapat melompat dan meloncat dengan satu kaki,menangkap bola dengan tepat,berjalan mnuruni tangga dengan kaki bergantian.anak sudah mampu menggunakan gunting dengan baik untuk memotong gambar mrngikutio garis,dapat memasang sepatu tetapi belum dapat mengikat talinya .
c.       Tahun kelima
Pada tahun kelima sampai ke enam anak sudah mampu melompat dan meloncat pada kaki bergantian serta melempar dan menangkap bola dengan baik .Anak sudah mampu menggunakan gunting dan alat sederhana sepreti pensil dengan sangat baik,mampu mengikat tali sepatu,anak juga sidah mampu mencetak beberapa huruf,angka atau kata seperti nama panggilan.
·         Aspek Bahasa
Pada awal masa prasekolah perbendaharaan kata yang dicapai jurang dari 900 kata,mengunjak tahun keempat sudah mencapai 1500 kata atau lebih dan pada tahun kelima sampai keenam mencapai 2100 kata,mengunakan 6 sampai 8 kata,menyebut 4 warna atau lebih,dapat menggambar dengan banyak komentar serta menyebutkan bagiannya,mengetahui waktu seperti hari,minggu dan bulan,anak juga sudah mampu mengikuti 3 perintah sekaligus.
·         Aspek Sosial
Pada tahun ketiga anak sudah hamper mampu berpakaian dan makan sendiri,rentang perhatian meningkat ,mengetahui jenis kelaminnya sendiri,dalam permainan sering mengikuti aturannya sendiri tetapi anak sudah mulai berbagi.tahun keempat anak sudah cenderung mandiri dank eras kepala atau tidak sabar,agresif secara fisik dan vweerbal,mendapat kebanggan dalam pencapaian,masih mempunyai banyak rasa takut.pada akhir usia prasekolah anak sudah jarang memberontak,lebih tenang,mandiri,dapat dipercaya,lebih bertanggungjawab,mencoba untuk hidup berdasarkan outran,bersikap lebih baik,dalam permainan sudah mencoba mengikuti aturan tetapi kadang curang.
·         Aspek Kognitif
Tahun ketiga berada pada fase pereptual,anak cenderung egosentrik dalam berfikir dan berperilaku,mulai memahami waktu,mengalami perbaikankonsep tentang ruang,dan mulai dapat memandang konsep dari perspektif yang berbeda.
Tahun keempat anak berada pada fase inisiatif,memahami waktu lebih baik,menilai sesuatu menurut dimensinya,penilaian muncul berdasarkan persepsi,egosentris mulai berkurang,kesadaran social lebih tinggi,mereka patuh kepada orang tua karena mempunyai batasan bukan karena memahami hal benar atau salah.
Pada akhir masa prasekolah anak sudah mampu memandang perspektif orang lain dan mentoleransinya tetapi belum memahaminya,anak sangat ingin tahu tentang factual dunia.
4        Tumbuh Kembang Toddler
Toddler adalah anak adalah anak anatara rentang usia 12 sampai 36 bulan. Toddler tersebut ditandai dengan peningkatan kemandirian yang diperkuat dengan kemampuan mobilitas fisik dan kognitif lebih besar.
Perkembangan Fisik perkembangan ketrampilan motorik yang cepat membolehkan anak untuk berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri sendiri seperti makan, berpakaian dan eliminasi. Pada awal toddler berjalan dalam posisi tegak dengan sikap papan berjalan, abdomen menonjol, dan lengan berada diluar sisi untuk keseimbangan. Segera anak mulai mengemudikan kursi, menggunakan pegangan atau dinding untuk mempertahankan keseimbangan sambil meninggikan, menempatkan kaki pada langkah yang sama sebelum melanjutkan langkah. Keberhasilan memberikan dorongan untuk mencoba cara yang lebih tegak untuk mengalihkan kursi dengan cara yang sama. Ketrampilan daya gerak segera meliputi berlari, melompat, berdiri satu kaki beberapa detik, dan menendang bola. Kebanyakan toddler dapat mengendarai sepeda roda tiga, memanjat tangga dan berlari dengan baik.
Kemampuan motorik halus meningkat dari menggambar lingkaran secara spontan sampai menggambar garis silang dengan benar. Pada usia tiga tahun, anak menggambar orang kayu sederhana dan biasanya dapat menumpuk kotak-kotak kecil menjadi menara. Peningkatan ketrampilan daya gerak, kemampuan untuk melepas pakaian, dan perkembangan control sfingter memungkinkan anak untuk toilet training jika toddler telah mengembangkan kemampuan kognitif yang penting. Orangtua sering konsultasi pada perawat untuk pengkajian kesiapan toilet training.
System jantung paru menjadi stabil pada masa toddler. Rata-rata denyut jantung dan pernapasan lambat sampai rata-rata 110x/menit dan pernapasan 25x/menit, secara berurutan, dan tekanan darah bervariasi. Rentang normal tekanan darah adalah sistolik 70-110 dan diastolik 40-70 mmHg.



5        Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
Pada usia ini anak disebut juga priode intelektual, karena merupakan tahap pertama anak menggunakan sebagian waktunya untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya. Perhatian anak sedang ditujukan kepada dunia pengetahuan tentang dunia dan alam sekelilingnya serta senang sekali membaca tentang cerita petualangan yang menambah pengalamannya. Pada usia ini terjadi perubahan-perubahan dari usia sebelumnya diantaranya iala :
a)      Minat
Minatnya objektif, perhatian lebih ditujukan pada dunia kenyataan atau dinia objektif yang dianalisa serta menunjukkan adanya hokum sebab akibat. Anak akan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Jika lingkungannya mendukung anak akan lebih mudah untuk belajar kebiasaan seperti tidur dan bangun pada waktunya, makan, belajar, pada waktu dan tempatnya, dan anak mudah diajak kerja sama dan patuh. Ikut aktif dalam kepramukaan akan sangat membantu dalam pembentukan kepribadian yang stabil.
Untuk mengembangkan minat tergantung pada kesempatan yang ada, misalnya saja seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak religius kemungkinan besar anak tidak menauh minat pada agama. Dalam pengembangan minat, hubungan antar pribadi lebih menunjanga dari pada pengajaran khusus, juga suka atau tidak suka memainkan peranan penting, seperti anak yang tidak menyukai gurunya cenderung tidak menyukai pelajarannya.
b)      Kesempurnaan
Menurut Ericson anak nampak rajin dan aktif karena ingin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan padanya. Karenanya jaga jangan sampai anak rendah diri, usahakan anak merasxa tenang, mampu berprestasi. Priode ini disebut usia sekolah kareana itu anak tidak boleh gagal dalam sekolahnya. Ia harus memperoleh kepuasan atas keberhasilannya dan kepuasan ini akan memperkuat perkembangan kepribadiannya. Sikap sukses akan memberikan perasaan mampu pada dirinya yang akan menjadi modal dasar untuk menyelesaikan tugas-tugas lebih lanjut dan lebih berat.

c)      Bermain
Dengan kemajuan usianya dan bertambah popularnya bentuk hiburan seperti bacaan, film dan televisi maka kegiatan bermain menjadi berkurang.
d)     Permasalahan
Dunianya makin luas demikian pula minatnya dengan pelajaran formal di sekolah, pembahasan mengenai lingkungan meningkat.melalui kemampuan membaca anak dapat bertukar pikiran dengan teman-teman sebayanya. Dengan demikian anak mengembangkan sikap yang realistis mengenai hidup.
e)      Moral
Kontaknya anak dengan orang lain membuat pandangan atau konsepnya semakin luas. Ia menemukan apa yang selama ini dianggap benar atau salah di rumah yang tidak selamanya sesuai dengan di luar rumah. Sehingga ukuran-ukuran baru mengenai moral anak tumbuh secara bertahap yang kadang-kadang bertentangan dengan yang dianut orang tua. Anak mengemban rasa kejujuran dan keadil;an yang tinggi dan ia tidak segan-segan memprotes bila ia diperlakukan tidak adil.
f)       Hubungan Keluarga
Walaupun lingkungan anak telah bertambah luas pengaruh orang tua masih membekas dalam perkembangan kepribadiannya. Misalnya orang tua yang berambisi, dapat mempengaruhi anak menjadi kurang tenang, tidak aman dan tidak menerima bila gagal mencapai harapan-harapan orang tua.
g)      Salah Didikan
Jika salah didikan akan timbul berbagai masalah prilaku seperti mengompol, berbohong, suka berkelahi, nakal dan malas belajar, mengganggu adik-adiknya, melancong, melamun, lari dari rumah, tidak naik kelas, merokok, dsb. Untuk memperbaiki salah penyesuaiian diri perlu diteliti latar belakang kehidupan anak, mengapa hal itu terjadi, sering ditemukan sebabnya, karena kurang perhatian orang tua.



BAB III
KONSEP NYERI


A.    Definisi Nyeri
Nyeri merupakan Perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat.yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain, mencakup pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan perubahan hidup seseorang. Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan fisiologikal.
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan

B.     Penyebab Nyeri
1.      Trauma
Ø  Mekanik
Rasa nyeri timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan, misalnya akibat benturan, gesekan, luka dan lain-lain.
Ø  Thermis
Nyeri timbul karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan akibat panas, dingin, misal karena api dan air.
Ø  Khemis
Timbul karena kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau basa kuat
Ø  Elektrik
Timbul karena pengaruh aliran listrik yang kuat mengenai reseptor rasa nyeri yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar.
2.      Neoplasma
Ø  Jinak
Ø  Ganas
3.      Peradangan
Nyeri terjadi karena kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan atau terjepit oleh pembengkakan. Misalnya : abses
4.      Gangguan sirkulasi darah dan kelainan pembuluh darah
5.      Trauma psikologis

C.    Klasifikasi Nyeri
Menurut Tempat:
a)      Periferal Pain
Ø  Superfisial Pain (Nyeri Permukaan)
Ø  Deep Pain (Nyeri Dalam)
Ø  Reffered Pain (Nyeri Alihan), nyeri yang dirasakan pada area yang bukan merupakan sumber nyerinya.
b)      Central Pain
Terjadi karena perangsangan pada susunan saraf pusat, spinal cord, batang otak dll.
c)      Psychogenic Pain
Nyeri dirasakan tanpa penyebab organik, tetapi akibat dari trauma psikologis.
d)     Phantom Pain
Phantom Pain merupakan perasaan pada bagian tubuh yang sudah tak ada lagi, contohnya pada amputasi. Phantom pain timbul akibat dari stimulasi dendrit yang berat dibandingkan dengan stimulasi reseptor biasanya. Oleh karena itu, orang tersebut akan merasa nyeri pada area yang telah diangkat.
e)      Radiating Pain
Nyeri yang dirasakan pada sumbernya yang meluas ke jaringan sekitar.
Menurut Sifat
Ø  Insidentil : timbul sewaktu-waktu dan kemudian menghilang
Ø  Steady : nyeri timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama
Ø  Paroxysmal : nyeri dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali dan biasanya menetap 10 – 15 menit, lalu menghilang dan kemudian timbul kembali.
Ø  Intractable Pain : nyeri yang resisten dengan diobati atau dikurangi. Contoh pada arthritis, pemberian analgetik narkotik merupakan kontraindikasi akibat dari lamanya penyakit yang dapat mengakibatkan kecanduan.
Menurut Berat Ringannya
Ø  Nyeri ringan : dalam intensitas rendah
Ø   Nyeri sedang : menimbulkan suatu reaksi fisiologis dan psikologis
Ø  Nyeri Berat : dalam intensitas tinggi
Menurut Waktu Serangan
Terdapat beberapa cara untuk mengklasifikasikan tipe nyeri. Pada tahun 1986, The National Institutes of Health Concencus Conference of Pain mengkategorikan nyeri menurut penyebabnya. Partisipan dari konferensi tersebut mengidentifikasi 3 (tiga) tipe dari nyeri : akut, Kronik Malignan dan Kronik Nonmalignan.
Nyeri akut timbul akibat dari cedera akut, penyakit atau pembedahan. Nyeri Kronik Nonmalignan diasosiasikan dengan cedera jaringan yang tidak progresif atau yang menyembuh. Nyeri yang berhubungan dengan kanker atau penyakit progresif disebut Chronic Malignant Pain. Meskipun demikian, perawat biasanya berpegangan terhadap dua tipe nyeri dalam prakteknya yaitu akut dan kronis :
·         Nyeri Akut, Nyeri akut biasanya berlangsung singkat, misalnya nyeri pada fraktur. Klien yang mengalami nyeri akut baisanya menunjukkan gejala-gejala antara lain : perspirasi meningkat, Denyut jantung dan Tekanan darah meningkat, dan pallor
·         Nyeri Kronis. Nyeri kronis berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama dan klien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan.

D.    Fisiologi nyeri
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu:



a.       Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan
b.      Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi. Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.
c.       Reseptor Viseral
Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.

E.     Teori Pengontrolan Nyeri (Gate control theory)
Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007)
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005)

F.     Respon Terhadap Nyeri
1        Respon Psikologis
Respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien. Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-beda antara lain:
Ø  Bahaya atau merusak
Ø  Komplikasi seperti infeksi
Ø  Penyakit yang berulang
Ø  Penyakit baru
Ø  Penyakit yang fatal
Ø  Peningkatan ketidakmampuan
Ø  Kehilangan mobilitas
Ø  Menjadi tua
Ø  Sembuh
Ø  Perlu untuk penyembuhan
Ø  Hukuman untuk berdosa
Ø  Tantangan
Ø  Penghargaan terhadap penderitaan orang lain
Ø  Sesuatu yang harus ditoleransi
Ø  Bebas dari tanggung jawab yang tidak dikehendaki
Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan, persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya
2        Respon fisiologis terhadap nyeri
 Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)

Ø  Peningkatan heart rate
Ø  Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
Ø  Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
Ø  Peningkatan nilai gula darah
Ø  Diaphoresis
Ø  Peningkatan kekuatan otot
Ø  Dilatasi pupil
Ø  Penurunan motilitas GI
Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)
·         Muka pucat
·         Otot mengeras
·         Penurunan HR dan BP
·         Nafas cepat dan irreguler
·         Nausea dan vomitus
·         Kelelahan dan keletihan
3        Respon tingkah laku terhadap nyeri
Ø  Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
Ø  Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)
Ø  Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
Ø  Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
Ø  Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)
Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri. Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
a)      Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien.
b)      Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang.
Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.
Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
c)      Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.


G.    Faktor Yang Mempengaruhi Respon Nyeri
1)      Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2)      Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
3)      Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4)      Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5)      Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6)      Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7)      Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8)      Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.
9)      Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan

H.    Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1        skala intensitas nyeri deskritif
skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0          :Tidak nyeri
1-3       : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9       : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10        : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

I.       Pengkajian Nyeri
Dikarenakan nyeri merupakan pengalaman interpersonal, perawat harus menanyakannya secara langsung kepada klien. Karakteristika.
1        Lokasi. Pengkajian lokasi nyeri mencakup 2 dimensi:
·         Tingkat nyeri, nyeri dalam atau superfisial
·         Posisi atau lokasi nyeri
Nyeri superfisial biasanya dapat secara akurat ditunjukkan oleh klien; sedangkan nyeri yang timbul dari bagian dalam (viscera) lebih dirasakan secara umum. Nyeri dapat pula dijelaskan menjadi empat kategori, yang berhubungan dengan lokasi :
§  Nyeri terlokalisir : nyeri dapat jelas terlihat pada area asalnya
§  Nyeri Terproyeksi : nyeri sepanjang saraf atau serabut saraf spesifik
§  Nyeri Radiasi : penyebaran nyeri sepanjang area asal yang tidak dapat dilokalisir
§  Reffered Pain (Nyeri alih) : nyeri dipersepsikan pada area yang jauh dari area rangsang nyeri.
2         Intensitas, Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri :
§  Distraksi atau konsentrasi dari klien pada suatu kejadian
§  Status kesadaran klien
§  Harapan klien
§  Nyeri dapat berupa : ringan, sedang, berat atau tak tertahankan. Perubahan dari intensitas nyeri dapat menandakan adanya perubahan kondisi patologis dari klien.
3        Waktu dan Lama (Time & Duration)
Perawat perlu mengetahui/mencatat kapan nyeri mulai timbul; berapa lama; bagaimana timbulnya dan juga interval tanpa nyeri dan kapan nyeri terakhir timbul.
4        Kualitas
Deskripsi menolong orang mengkomunikasikan kualitas dari nyeri. Anjurkan pasien menggunakan bahasa yang dia ketahui: nyeri kepala mungkin dikatakan “ada yang membentur kepalanya”, nyeri abdominal dikatakan “seperti teriris pisau”. Alat Pengukur Nyeri





J.      Intervensi
Secara umum intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
1.      Non Farmakologik intervention : Distraksi, Relaksasi, Stimulasi Kutaneus
2.      Farmakologi Intervention
a)      Distraksi
Beberapa teknik distraksi, antara lain:
1. Nafas lambat, berirama
2. Massage and Slow, Rhythmic Breathing
3. Rhytmic Singing and Tapping
4. Active Listening
5. Guide Imagery
b)      Relaksasi
Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik dan memberikan beberapa keuntungan, antara lain :
·         Relaksasi akan menurunkan ansietas yang berhubungan dengan nyeri atau stress
·         Menurunkan nyeri otot
·         Menolong individu untuk melupakan nyeri
·         Meningkatkan periode istirahat dan tidur
·         Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain
·         Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul akibat nyeri
Stewart (1976: 959), menganjurkan beberapa teknik relaksasi berikut :
2.      Klien menarik nafas dalam dan menahannya di dalam paru
2. Secara perlahan-lahan keluarkan udara dan rasakan tubuh menjadi kendor dan rasakan betapa nyaman hal tersebut
3. Klien bernafas dengan irama normal dalam beberapa waktu
4. Klien mengambil nafas dalam kembali dan keluarkan secara perlahan-lahan, pada saat ini biarkan telapak kaki relaks. Perawat minta kepada klien untuk mengkonsentrasikan fikiran pada kakinya yang terasa ringan dan hangat.
5. Ulangi langkah 4 dan konsentrasikan fikiran pada lengan, perut, punggung dan kelompok otot-otot lain
6. Setelah klien merasa relaks, klien dianjurkan bernafas secara perlahan. Bila nyeri menjadi hebat klien dapat bernafas secara dangkal dan cepat.
c)      Stimulasi Kulit (Cutaneus)
Beberapa teknik untuk stimulasi kulit antara lain:
·         Kompres dingin
·         Analgesics ointments
·         Counteriritan, seperti plester hangat.
·         Contralateral Stimulation, yaitu massage kulit pada area yang berlawanan dengan area yang nyeri.
d)     Farmakologik Agent
1.      Analgesics
Obat golongan analgesik akan merubah persepsi dan interpretasi nyeri dengan jalan mendepresi Sistem Saraf Pusat pada Thalamus dan Korteks Cerebri. Analgesik akan lebih efektif diberikan sebelum klien merasakan nyeri yang berat dibandingkan setelah mengeluh nyeri. Untuk alasan ini maka analgesik dianjurkan untuk diberikan secara teratur dengan interval, seperti setiap 4 jam (q 4h) setelah pembedahan.
Terdapat dua klasifikasi mayor dari analgesik, yaitu :
·         Narcotic (Strong analgesics)
Termasuk didalamnya adalah: derivat opiate seperti morphine dan codein.
Narkotik menghilangkan nyeri dengan merubah aspek emosional dari pengalaman nyeri (misal: persepsi nyeri). Perubahan mood dan perilaku dan perasaan sehat membuat seseorang merasa lebih nyaman meskipun nyerinya masih timbul.
·         Nonnarcotics (Mild analgesics)
Mencakup derivat dari: Asam Salisilat (aspirin); Para-aminophenols (phenacetin); Pyrazolon (Phenylbutazone). Meskipun begitu terdapat pula obat analgesik kombinasi, seperti kombinasi dari analgesik kuat (strong analgesics) dengan analgesik ringan (mild analgesics), contohnya: Tylenol, merupakan kombinasi dari acetaminophen sebagai obat analgesik nonnarkotik dengan codein, 30mg.
·         Plasebo
Plasebo merupakan jenis dari tindakan, seperti pada intervensi keperawatan yang menghasilkan efek pada klien dikarenakan adanya suatu kepercayaan daripada kandungan fisik atau kimianya (McCaffery, 1982:22). Pengobatannya tidak mengandung komponen obat analgesik (seperti : gula, larutan garam/normal saline, atau air) tetapi hal ini dapat menurunkan nyeri. Untuk memberikan plasebo ini perawat harus mempunyai izin dari dokter.
Medical Interventions
1. Blok Saraf (Nerve Block)
2. Electric Stimulation
3. Acupunture
4. Hypnosis
5. Surgery/Pembedahan
6. Biofeedback










BAB IV
PEMERIKASAAN TANDA-TANDA VITAL
(VITAL SIGHN)
A.    Definisi
Pemeriksaan tanda vital (Vital Sign) merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan sitem tubuh. Tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah. Tanda vital mempunyai nilai sangat penting pada fungsi tubuh. Adanya perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh; Denyut nadi dapat menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskuler; Frekuensi pernafasan dapat menunjukkan fungsi pernafasan; dan Tekanan darah dapat menilai kemampuan sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi.
Semua tanda vital tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam dalam kondisi aktivitas berat atau dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem tubuh. Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh perawat digunakan untuk memantau perkembangan pasien. Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan rutin pada klien, akan tetapi merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan atau gangguan sistem tubuh.
Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada semua klien berbeda satu dengan yang lain. Tingkat kegawatan pasien seperti pada kondisi pasien kritis akan membutuhkan pengawasan terhadap tanda vital yang lebih ketat dibanding pada kondisi pasien yang tidak kritis, demikian sebaliknya.  Prosedur pemeriksaan tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi pengukuran suhu, pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan pernafasan, dan pengukuran tekanan darah.

B.     Pemeriksaan Nadi
Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang dirasakan dari proses pemompaan jantung. Pemeriksaan nadi seharusnya dilakukan dalam keadaan tidur atau istirahat. Kondisi hipertermia dapat meningkatkan denyut nadi sebanyak 15 – 20 kali per menit setiap peningkatan suhu 1 derajat celcius.




Tabel frekuensi nadi
Umur
Frekuensi nadi rata-rata
Lahir
140
1 bulan
130
1 – 6 bulan
130
6 – 12 bulan
115
1 – 2 tahun
110
2 – 4 tahun
105
6 – 10 tahun
95
10 – 14 tahun
85
14 – 18 tahun
82
Sumber: Joyce Engel 1995


Penilaian denyut nadi yang lain adalah takikardia sinus yang ditandai dengan variasi 10 – 15 denyutan dari menit ke menit dan takikardia supraventrikuler paroksimal ditandai dengan nadi sulit dihitung karena terlalu cepat (lebih dari 200 kali per menit). Bradikardia merupakan frekuensi denyut jantung lebih lambat dari normal. Pemeriksaaan nadi yang lain adalah iramanya, normal atau tidak. Disritmia (aritmia) sinus adalah ketidakteraturan nadi, denyut nadi lebih cepat saat inspirasi dan lambat saat  ekspirasi.
Tabel pola nadi
Pola Nadi
Deskripsi
·         Bradikardia
·         Takikardia



·         Sinus aritmia



·         Pulsus alternans


·         Pulsus Gigeminus


·         Pulsus paradoxsus


·         Thready pulses



·         Pulsus Corrigan
-          Frenkuensi nadi lambat
-          Frekuensi nadi meningkat dalam keadaan takut, menangis, aktivitas meningkat atau demam yang berkaitan dengan kelainan jantung
-          Frekuensi nadi meningkat selama inspirasi dan menurun selama ekspirasi, sinus arutmia merupakan variasi normal pada anak terutama pada saat tidur
-          Denyut nadi yang silih berganti kuat lemah dan kemungkinan menunjukan gagal jantung
-          Denyutan berpasangan yang berhubungan dengan denyutan premature
-          Kekuatan nadi menurun dengan inspirasi
-          Denyutan nadi cepat dan lemah, menunjukan tanda syok nadi sukar dipalpasi tampak muncul dan menghilang
-          Denyut nadi kuat dan berdetak-detak disebabkan variasi yang luas pada tekanan nadi

Sumber: Joyce Engel 1995

Prosedur Pemeriksaan Denyut Nadi
TAHAP PRE INTERAKSI
o   Membaca catatan keperawatan/cek catatan medis keperawatan klien
o   memvalidasi perasaan perawat
o   Menyiapkan alat-alat yang diperlukan
·         Jam Tangan/ Stop watch
·         Buku catatan
·         Pena/ alat tulis
o   Mencuci tangan
TAHAP ORIENTASI
o   Memberi salam, panggil klien dengan menggunakan nama yang disenangi & memperkenalkan nama perawat
o   Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien atau keluarga
o   Memberikan kesempatan untuk bertanya
TAHAP KERJA
o   Menjaga privasi klien (memasang skeren)
o   Menanyakan keluhan utama saat ini
o   Menjelaskan prosedur kepada klien

MENILAI DENYUT NADI RADIALIS
o   Mengatur posisi pasien yang nyaman dan rilaks
o   Menekan kulit dekat dengan arteri radialis dengan tiga jari, dan meraba denyut nadi
o   Menekan arteri radialis dengan kuat dengan jari-jari selama kurang lebih 60 detik, jika tidak teraba denyutan jari-jari digeser kekanan dan kekiri sampai ketemu
o   Denyutan pertama akan teraba kuat, menekan sampai denyutan hilang, melepas tekanan sampai denyutan terasa kuat lagi
MENILAI NADI BRAKHIALIS
o   Mengatur posisi yang nyaman dan rileks
o   Meraba mencari daerah pulse brakial (antara bisep dan trisep)
o   Menekan arteri radialis dengan kuat dengan jari-jari selama kurang lebih 60 detik, jika tidak teraba denyutan jari-jari digeser kekanan dan kekiri sampai ketemu
o   Denyutan pertama akan teraba kuat, menekan sampai denyutan hilang, melepas tekanan sampai denyutan terasa kuat lagi
TAHAP TERMINASI
o   Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan tindakan
o   Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien
o   Merapikan alat dan klien
o   Cuci tangan
o   Melakukan kontrak untuk tindakan selanjutnya
DOKUMENTASI
o   Catat seluruh hasil tindakan dalam catatan keperawatan.

C.    Pemeriksaan Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah indikator penting dalam menilai fungsi kardiovaskuler. Dalam prosesnya perubahan tekanan darah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
1        Tolakan Perifer. Merupakan sistem peredaran darah yang memiliki sistem tekanan tertinggi (arteria) dan sistem tekanan terendah (pembuluh kapiler dan vena), diantara keduanya terdapat arteriola dan pembuluh otot yang sangat halus.
2        Gerakan memompa oleh jantung. Semakin banyak darah yang dipompa ke dalam arteria menyebabkan arteria akan lebih menggelembung dan mengakibatkan bertambahnya tekanan darah. Begutu juga sebaliknya.
3        Volume darah. Bertambahnya darah menyebabkan besarnya tekanan pada arteria.
4         Kekentalan darah. Kekentalan darah ini tergantung dari perbandingan sel darah dengan plasma.
Pemeriksaan tekanan darah dapat diukur dengan metode yaitu
·         Metode Langsung: Metode yang menggunakan kanula atau jarum yang dimasukkan kedalam pembuluh darah yang dihubungkan dengan manometer. Metode ini merupakan cara yang paling tepat untuk menentukan tekanan darah, tetapi memerlukan persyaratan dan keahlian khusus
·         Metode Tak Langsung: Metode yang menggunakan sfigmomanometer. Pengukuran tak langsung ini menggunakan 2 cara yaitu
Ø  Palpasi yang mengukur tekanan sistolik tanpa menggunakan stetoskop dan
Ø  Auskultasi yang dapat mengukur tekanan sistolik dan diastolik dan cara ini memerlukan stetoskop
Tabel Nilai Normal Tekanan Darah
Umur
Sistolik/Diastolik (mmHg)
1 bulan
86/54
6 bilan
90/60
1 tahun
96/65
2 tahun
99/65
4 tahun
99/65
6 tahun
99/65
8 tahun
100/60
10 tahun
105/60
12 tahun
110/60
16 tahun
115/60
Diatas 18 tahun
120/60
Sumber: Joyce Engel 1995

Prosedur Pemeriksaan Tekanan Darah
TAHAP PREINTERAKSI
o   Membaca catatan keperawatan/cek catatan medis keperawatan klien
o   validasi perasaan perawat
o   Menyiapkan alat-alat yang diperlukan
·         Tensimeter lengkap
·         Stetoskop
·         Buku catatan
·         Pena/alat tulis
o   4.Mencuci tangan
TAHAP ORIENTASI
o   Memberi salam, panggil klien dengan menggunakan nama yang disenangi & memperkenalkan nama perawat
o   Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien atau keluarga
o   Memberikan kesempatan untuk bertanya
TAHAP KERJA
o   Menjaga privasi klien (memasang skeren)
o   Menanyakan keluhan utama saat ini
o   Mengatur posisi klien
o   Menyingsingkan lengan baju klien
o   Memasang manset sekitar lengan atas ± 2,5 cm diatas auto cubita (dewasa)
o   Mengatur tensimeter agar siap dipakai (untuk tensimeter air raksa), yaitu menghubungkan pipa tensimeter dengan pipa manset, menutup sekrup balon manset, membuka kunci reservoir
o   Melakukan palpasi pada daerah arteri brachialis
o   Meletakkan diafragma stetoskop diatas denyut arteri brachialis
o   Menutup katup dari pompa spygnomanometer
o   Raba arteri radialis
o   Memompa manset dari spygnomanometer sampai arteri radialis tidak teraba, kemudian naikkan 20-30 mmhg
o   Mengendorkan pipa 2-3 mmhg per denyut
o   Mencatat bunyi korotkoff I dan V atau bunyi detak pertama (systole) dan terakhir (diastole) pada manometer sebagai mana penurunan tekanan
o   Melonggarkan pompa segera sesudah bunyi terakhir hilang
o   Jika pengukuran perlu diulang, tunggu 30 detik dan lengan ditinggikan diatas jantung untuk mengalirkan darah dari lengan
o   Melepas manset dari lengan klien
o   Mengembalikan posisi pasien senyaman mungkin.
TAHAP TERMINASI
o   Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan tindakan
o   Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien
o   Merapikan alat dan klien
o   Cuci tangan
o   Melakukan kontrak untuk tindakan selanjutnya
DOKUMENTASI
o   Catat seluruh hasil tindakan dalam catatan keperawatan

D.    Pemeriksaan Pernapasan
Merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Menilai frekuensi, irama, kedalaman dan tipe atau pola pernapasan.

Pola Pernafasan
Deskripsi
  • Dispnea

  • Bradipnea

  • Takipnea
  • Hiperpnea
  • Apnea
  • Chyne stokes



  • Kusmaul

  • Biot
  • Susah bernafas yang menunjukan adanya retraksi
  • Frekuensi pernafasan yang abnormal yang menunjukan irama tidak teratur
  • Frekuensi pernafasan yang cepat abnormal
  • Pernafasan cepat dan dalam
  • Tidak ada pernafasan
  • Periode pernafasan yang cepat dan dalam yang berganti dengan periode apnea, umumya pada bayi atau anak yang tertidur nyenyak, depresi dan kerusakan otak
  • Namaf yang abnormal, bias cepat normal dan lemah biasanya pada asidosis metabolic
  • Nafas yang tidak teratur menandakan ada kerusakan otak bagian bawah dan system pernafasan
Sumber: Joyce Engel 1995


Prosedur Pemeriksaan Pernafasan
TAHAP PREINTERAKSI
    • Membaca catatan keperawatan/cek catatan medis keperawatan klien
    • memvalidasi perasaan perawat
    • Menyiapkan alat-alat yang diperlukan
-          Jam Tangan/ Stop Wacth
-          Buku catatan
-          Pena/alat tulis
-          Grafik perkembangan
    • Mencuci tangan
TAHAP ORIENTASI
    • Memberi salam, panggil klien dengan menggunakan nama yang disenangi & memperkenalkan nama perawat
    • Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien atau keluarga
    • Memberikan kesempatan untuk bertanya
TAHAP KERJA
    • Menjaga privasi klien (memasang skeren)
    • Menanyakan keluhan utama saat ini
    • Menjelaskan prosedur kepada klien
    • Membuka baju pasien bila perlu untuk mengobservasi kedalam dan kesimetrisan gerakan
    • Menentukan irama pernafasan
    • Menentukan pernafasan selama 60 detik. Bila pernafasan teratur cukup 30 detik dan dikalikan 2
    • Mendengarkan bunyi pernafasan, sambil mendengarkan apa ada bunyi pernapasan abnormal abnormal (whising, ronkhi, vesikuler)
TAHAP TERMINASI
    • Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan tindakan
    • Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien
    • Merapikan alat dan klien
    • Cuci tangan
    •  Melakukan kontrak untuk tindakan selanjutnya
DOKUMENTASI
    •  Catat seluruh hasil tindakan dalam catatan keperawatan

E.     Pemeriksaan Suhu
Suhu tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas dan hilangnya panas dari tubuh ke lingkungan. Produksi panas yang dihasilkan tubuh antara lain berasal dari:
1)      Metabolisme dari makanan ( Basal Metabolic Rate )
2)      Olahraga
3)      Shivering atau kontraksi otot skelet
4)      Peningkatan produksi hormon tiroksin ( meningkatkan metabolisme seluler )
5)      Proses penyakit infeksi
6)      Termogenesis kimiawi ( rangsangan langsung dari norepinefrin dan efinefrin atau dari rangsangan langsung simpatetik )
Pemeriksaan suhu digunakan untuk menilai kondisi metabolisme di dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi melalui metabolisme darah. Keseimbangan suhu harus diatur dalam pembuangan dan penyimpanannya di dalam tubuh yang diatur oleh hipotalamus. Pembuangan atau pengeluaran panas dapat terjadi melalui berbagai proses, diantaranya:
a)      Radiasi, yaitu proses penyebaran panas melalui gelombang elektromagnet.
b)      Konveksi, yaitu proses penyebaran panas karena pergeseran antara daerah yang kepadatannya tidak sama seperti dari tubuh pada udara dingin yang bergerak atau pada air kolam renang.
c)      Evaporasi, yaitu proses perubahan cairan menjadi uap.
d)     Konduksi, yaitu proses pemindahan panas pada objek lain dengan kontak langsung tanpa gerakan yang jelas, seperti bersentuhan dengan permukaan yang dingin dan lain-lain.
suhu1
Prosedur Pemeriksaan Suhu Tubuh
TAHAP PREINTERAKSI
    • Membaca catatan keperawatan/cek catatan medis keperawatan klien
    • memvalidasi perasaan perawat
    • Menyiapkan alat-alat yang diperlukan
-          Thermometer Raksa/ Digital
-          Kapas Alkohol pada tempatnya
-          Air Sabun pada Tempatnya
-          Baki Instrumen
    • Mencuci tangan
TAHAP ORIENTASI
    • Memberi salam, panggil klien dengan menggunakan nama yang disenangi & memperkenalkan nama perawat
    • Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien atau keluarga
    • Menanyakan keluhan utama saat ini
    • Memberikan kesempatan untuk bertanya

TAHAP KERJA
    • Menjaga privasi klien (memasang skeren)
    • Berikan penjelasan kepada klien
    • Atur posisi yang nyaman : duduk atau berbaring dengan posisi tangan rileks
    • Keringkan ujung thermometer. Kemudian turunkan air raksa sampai skala nol. Sebelum meletakkan di aksila, bersihkan/keringkan aksila terlebih dahulu. Letakkan thermometer diaksila 5-10 menit. Setelah 5-10 menit lepaskan thermometer dari aksila dan baca kenaikan air raksa. Sembari mengukur suhu klien, lakukan perhitungan denyut nadi dan pernafasan.
    • Letakkan ujung jari-jari tangan kecuali ibu jari pada arteri/nadi yang akan diukur, tekan dengan lembut
    • Hitung frekuensi nadi mulai hitungan nol (C) selama 30 detik (kalikan 2x untuk memperoleh frekuensi dalam satu menit). Jika ritme nadi tidak teratur, hitung selama satu menit. Lanjutkan perhitungan pernafasan
    • Lalu sembari memegang arteri radialis (seolah-olah masih menghitung denyut nadi), hitung jumlah pernafasan klien selama 1 menit (naik turunnya dada klien)
    • Selanjutnya siapkan pasien untuk pemeriksaan tekanan darah. Gulung lengan baju klien.
    • Palpasi arteri brakhialis. Letakkan manset 2,5 cm diatas nadi brakhialis (ruang antekubital)
    • Naikkan tekanan dalam manset sambil meraba arteri radialis sampai denyutnya hilang
    • Tekanan dinaikkan lagi kurang lebih 30 mmhg
    • Letakkan stetoskop pada arteri brakhialis pada fossa cubitti dengan cermat dan tentukan tekanan sistolik
    • Turunkan tekanan manset dengan kecepatan 4 mmhg/detik sambil mendengar hilangnya pembuluh yang mengikuti 5 fase korotkof
    • Ulang pengukuran 1 kali lagi dengan air raksa dalam spignomanometer dikembalikan pada angka 0. Lakukan tindakan seperti diatas
TAHAP TERMINASI
    • Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan tindakan
    • Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien
    • Merapikan alat dan klien
    • Cuci tangan
DOKUMENTASI
    • Catat seluruh hasil tindakan dalam catatan keperawatan

















BAB V
PEMERIKSAAN FISIK KESADARAN

  1. Definisi
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.
Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak (head to toe). Setelah pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi.
Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat menyususn sebuah diagnosis diferensial,yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab tersebut.
Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri diri penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan tekanan darah selalu dilakukan pertama kali.

  1. Pemeriksaan Kesadaran/GCS (Gaslow Coma Scale)
GCS (Glasgow Coma Scale) yaitu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.
Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata, bicara dan motorik. Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung responnya.
Eye (respon membuka mata):
(4): spontan
(3): dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2): dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1): tidak ada respon
Verbal (respon verbal):
(5): orientasi baik
(4): bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu.
(3): kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)
(2): suara tanpa arti (mengerang)
(1): tidak ada respon
Motor (respon motorik):
(6): mengikuti perintah
(5): melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4): withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3): flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2): extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1): tidak ada respon
Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…
Selanutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1.
Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :
GCS : 14 – 15 =  CKR (cidera kepala ringan)
GCS : 9 – 13   =  CKS (cidera kepala sedang)
GCS : 3 – 8    =   CKB (cidera kepala berat)
  1. Tingkatan Kesadaran
Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :
Ø  Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.
Ø  Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
Ø  Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
Ø  Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
Ø  Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
Ø  Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.
Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemipareses serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

















BAB VI
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE


  1. Konsep Teori Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan peninjauan dari ujung rambut sampai ujung kaki pada setiap system tubuh yang memberikan informasi objektif tentang klien dan memungkinkan perawat untuk mebuat penilaian klinis. Keakuratan pemeriksaan fisik mempengaruhi pemilihan terapi yang diterima klien dan penetuan respon  terhadap terapi tersebut.(Potter dan Perry, 2005)
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien. ( Dewi Sartika, 2010)
Adapun teknik-teknik pemeriksaan fisik yang digunakan adalah:
1        Inspeksi
Inspeksi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran dan penciuman. Inspeksi umum dilakukan saat pertama kali bertemu pasien. Suatu gambaran atau kesan umum mengenai keadaan kesehatan yang di bentuk. Pemeriksaan kemudian maju ke suatu inspeksi local yang berfokus pada suatu system tunggal atau bagian dan biasanya mengguankan alat khusus seperto optalomoskop, otoskop, speculum dan lain-lain. (Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997)
Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa melalui pengamatan (mata atau kaca pembesar). (Dewi Sartika, 2010). Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, kesimetrisan, lesi, dan penonjolan/pembengkakan. setelah inspeksi perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya.
2        Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba dengan meletakkan tangan pada bagian tubuh yang dapat di jangkau tangan. Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997)
Palpasi adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan indera peraba ; tangan dan jari-jari, untuk mendeterminasi ciri2 jaringan atau organ seperti: temperatur, keelastisan, bentuk, ukuran, kelembaban dan penonjolan.(Dewi Sartika,2010)
Hal yang di deteksi adalah suhu, kelembaban, tekstur, gerakan, vibrasi, pertumbuhan atau massa, edema, krepitasi dan sensasi.
3        Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan tubuh unutk menghasilkan bunyi yang akan membantu dalam membantu penentuan densitas, lokasi, dan posisi struktur di bawahnya.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997) 
 Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri/kanan) dengan menghasilkan suara, yang bertujuan untuk mengidentifikasi batas/ lokasi dan konsistensi jaringan. Dewi Sartika, 2010)
4        Auskultasi
Auskultasi adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh bermacam-macam organ dan jaringan tubuh.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997) 
 Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.(Dewi Sartika, 2010)
 Dalam melakukan pemeriksaan fisik, ada prinsip-prinsip yang harus di perhatikan, yaitu sebagai berikut:
Ø  Kontrol infeksi. Meliputi mencuci tangan, memasang sarung tangan steril, memasang masker, dan membantu klien mengenakan baju periksa jika ada.
Ø  Kontrol lingkungan, yaitu memastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan untuk melakukan pemeriksaan fisik baik bagi klien maupun bagi pemeriksa itu sendiri. Misalnya menutup pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien
Ø  Komunikasi (penjelasan prosedur)
Ø  Privacy dan kenyamanan klien
Ø  Sistematis dan konsisten ( head to toe, dari eksternal ke internal, dari normal ke abnormal)
Ø  Berada di sisi kanan klien
Ø  Efisiensi
Ø  Dokumentasi

  1. Tujuan Pemeriksaan Fisik
Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan:
1        Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.
2        Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat keperawatan.
3        Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
4        Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan penatalaksanaan.
5        Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan.
Namun demikian, masing-masing pemeriksaan juga memiliki tujuan tertentu yang akan di jelaskan nanti di setiap bagian tibug yang akan di lakukan pemeriksaan fisik.

  1. Manfaat Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi kesehatan lain, diantaranya:
1        Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.
2        Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3         Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat
4        Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan
5         
  1. Indikasi
Mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada:
1        Klien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat.
2        Secara rutin pada klien yang sedang di rawat.
3        Sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien


  1. Prosedur Pemeriksaan Fisik
1        Persiapan
a)      Alat
Meteran, Timbangan BB, Penlight, Steteskop, Tensimeter/spighnomanometer, Thermometer, Arloji/stopwatch, Refleks Hammer, Otoskop, Handschoon bersih ( jika perlu), tissue, buku catatan perawat.
Alat diletakkan di dekat tempat tidur klien yang akan di periksa.
b)      Lingkungan
Pastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan. Misalnya menutup pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien
c)      Klien (fisik dan fisiologis)
Bantu klien mengenakan baju periksa jika ada dan anjurkan klien untuk rileks.
2        Prosedur pemeriksaan
Ø  Cuci tangan
Ø  Jelaskan prosedur
Ø  Lakukan pemeriksaan dengan berdiri di sebelah kanan klien dan pasang handschoen bila di perlukan
Ø  Pemeriksaan umum meliputi : penampilan umum, status mental dan nutrisi.
Posisi klien : duduk/berbaring
Cara : inspeksi
Ø  Kesadaran, tingkah laku, ekspresi wajah, mood. (Normal : Kesadaran penuh, Ekspresi sesuai, tidak ada menahan nyeri/ sulit bernafas)
Ø  Tanda-tanda stress/ kecemasan (Normal :)Relaks, tidak ada tanda-tanda cemas/takut)
Ø  Jenis kelamin
Ø  Usia dan Gender
Ø  Tahapan perkembangan
Ø  TB, BB ( Normal : BMI dalam batas normal)
Ø  Kebersihan Personal (Normal : Bersih dan tidak bau)
Ø  Cara berpakaian (Normal : Benar/ tidak terbalik)
Ø  Postur dan cara berjalan
Ø  Bentuk dan ukuran tubuh
Ø  Cara bicara. (Relaks, lancer, tidak gugup)
Ø  Evaluasi dengan membandingkan dengan keadaan normal.
Ø  Dokumentasikan hasil pemeriksaan.

  1. Pemeriksaan Fisik Head To Toe
1        Pemeriksaan kulit dan kuku
Tujuan
Ø  Mengetahui kondisi kulit dan kuku
Ø  Mengetahui perubahan oksigenasi, sirkulasi, kerusakan jaringan setempat, dan hidrasi.
Persiapan
Ø  Posisi klien: duduk/ berbaring
Ø  Pencahayaan yang cukup/lampu
Ø  Sarung tangan (utuk lesi basah dan berair)
Prosedur Pelaksanaan
a)      Pemeriksaan kulit
·         Inspeksi : kebersihan, warna, pigmentasi,lesi/perlukaan, pucat, sianosis, dan ikterik.
Normal: kulit tidak ada ikterik/pucat/sianosis.
·         Palpasi : kelembapan, suhu permukaan kulit, tekstur, ketebalan, turgor kulit, dan   edema.
Normal: lembab, turgor baik/elastic, tidak ada edema. setelah diadakan pemeriksaan kulit dan kuku evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
b)      Pemeriksaan kuku
·          Inspeksi : kebersihan, bentuk, dan warna kuku
Normal: bersih, bentuk normaltidak ada tanda-tanda jari tabuh (clubbing finger), tidak ikterik/sianosis.
·         Palpasi : ketebalan kuku dan capillary refile ( pengisian kapiler ).
Normal: aliran darah kuku akan kembali < 3 detik. setelah diadakan pemeriksaan kuku evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
2        Pemeriksaan kepala
Tujuan
o   Mengetahui bentuk dan fungsi kepala 
o   Mengetahui kelainan yang terdapat di kepala 
Persiapan alat
o   Lampu
o    Sarung tangan (jika di duga terdapat lesi atau luka)
Prosedur Pelaksanaan
·         Inspeksi : ukuran lingkar kepala, bentuk, kesimetrisan, adanya lesi atau tidak, kebersihan rambut dan kulit kepala, warna, rambut, jumlah dan distribusi rambut.
Normal: simetris, bersih, tidak ada lesi, tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi(rambut jagung dan kering)
·          Palpasi : adanya pembengkakan/penonjolan, dan tekstur rambut.
Normal: tidak ada penonjolan /pembengkakan, rambut lebat dan kuat/tidak rapuh. setelah diadakan pemeriksaan kepala evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat.
3        Pemeriksaan wajah
·          Inspeksi : warna kulit, pigmentasi, bentuk, dan kesimetrisan.
Normal: warna sama dengan bagian tubuh lain,  tidak pucat/ikterik, simetris.
·         Palpasi : nyeri tekan dahi, dan edema, pipi, dan rahang
Normal: tidak ada nyeri tekan dan edema. setelah diadakan pemeriksaan wajah evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
4        Pemeriksaan mata
Tujuan
Ø  Mengetahui bentuk dan fungsi mata
Ø  Mengetahui adanya kelainan pada mata.

Persiapan alat
Ø  Senter Kecil
Ø  Surat kabar atau majalah
Ø  Kartu Snellen
Ø  Penutup Mata
Ø  Sarung tangan
Prosedur Pelaksanaan
·          Inspeksi:  bentuk, kesimestrisan, alis mata, bulu mata, kelopak mata, kesimestrisan, bola mata, warna konjunctiva dan sclera (anemis/ikterik), penggunaan kacamata / lensa kontak, dan respon terhadap cahaya.
Normal: simetris mata kika, simetris bola mata kika, warna konjungtiva pink, dan sclera berwarna putih.
5        Tes Ketajaman Penglihatan
            Ketajaman penglihatan seseorang mungkin berbeda dengan orang lain. Tajam penglihatan tersebut merupakan derajad persepsi deteil dan kontour beda. Visus tersebut dibagi dua yaitu:
a)      Visus sentralis.
Visus sentralis ini dibagi dua yaitu visus sentralis jauh dan visus sentralis dekat.
visus centralis jauh merupakan ketajaman penglihatan untuk melihat benda benda yang letaknya jauh. Pada keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi. (EM. Sutrisna, dkk, hal 21).
virus centralis dekat yang merupakan ketajaman penglihatan untuk melihat benda benda dekat misalnya membaca, menulis dan lain lain. Pada keadaan ini mata harus akomodasi supaya bayangan benda tepat jatuh di retina. (EM. Sutrisna, dkk, hal 21).
b)     Visus perifer
Pada visus ini menggambarkan luasnya medan penglihatan dan diperiksa dengan perimeter. Fungsi dari visus perifer adalah untuk mengenal tempat suatu benda terhadap sekitarnya dan pertahanan tubuh dengan reaksi menghindar jika ada bahaya dari samping. Dalam klinis visus sentralis jauh tersebut diukur dengan menggunakan grafik huruf Snellen yang dilihat pada jarak 20 feet atau sekitar 6 meter. Jika hasil pemeriksaan tersebut visusnya e”20/20 maka tajam penglihatannya dikatakan normal dan jika Visus <20/20 maka tajam penglihatanya dikatakan kurang Penyebab penurunan tajam peglihatan seseorang bermacam macam, salah satunya adalah refraksi anomaly/kelainan pembiasan.
 Prosedur pemeriksaan visus dengan menggunakan peta snellen yaitu:
·         Memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud tujuan pemeriksaan.
·         Meminta pasien duduk menghadap kartu Snellen dengan jarak 6 meter.
·         Memberikan penjelasan apa yang harus dilakukan (pasien diminta mengucapkan apa yang akan ditunjuk di kartu Snellen) dengan menutup salah satu mata dengan tangannya tanpa ditekan (mata kiri ditutup dulu).
·         Pemeriksaan dilakukan dengan meminta pasien menyebutkan simbol di kartu Snellen dari kiri ke kanan, atas ke bawah.
·         Jika pasien tidak bisa melihat satu simbol maka diulangi lagi dari barisan atas. Jika tetap maka nilai visus oculi dextra = barisan atas/6.
·         Jika pasien dari awal tidak dapat membaca simbol di Snellen chart maka pasien diminta untuk membaca hitungan jari dimulai jarak 1 meter kemudian mundur. Nilai visus oculi dextra = jarak pasien masih bisa membaca hitungan/60.
·         Jika pasien juga tidak bisa membaca hitungan jari maka pasien diminta untuk melihat adanya gerakan tangan pemeriksa pada jarak 1 meter (Nilai visus oculi dextranya 1/300).
·         Jika pasien juga tetap tidak bisa melihat adanya gerakan tangan, maka pasien diminta untuk menunjukkan ada atau tidaknya sinar dan arah sinar (Nilai visus oculi dextra 1/tidak hingga). Pada keadaan tidak mengetahui cahaya nilai visus oculi dextranya nol.
·         Pemeriksaan dilanjutkan dengan menilai visus oculi sinistra dengan cara yang sama.
·         Melaporkan hasil visus oculi sinistra dan dextra. (Pada pasien vos/vodnya “x/y” artinya mata kanan pasien dapat melihat sejauh x meter, sedangkan orang normal dapat melihat sejauh y meter.
6         Pemeriksaan telinga
Tujuan
Ø  Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga, dan fungsi pendengaran.
Persiapan Alat
o   Arloji berjarum detik
o   Garpu tala
o   Speculum telinga
o   Lampu kepala
Prosedur Pelaksanaan
·         Inspeksi  : bentuk dan ukuran telinga, kesimetrisan, integritas, posisi telinga, warna, liang telinga (cerumen/tanda-tanda infeksi), alat bantu dengar..
Normal: bentuk dan posisi simetris kika, integritas kulit bagus, warna sama dengan kulit lain, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan alat bantu dengar.
·         Palpasi : nyeri tekan aurikuler, mastoid, dan  tragus
Normal: tidak ada nyeri tekan. setelah diadakan pemeriksaan telinga evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
7        Pemeriksaaan Telinga Dengan Menggunakan Garpu Tala
a)      Pemeriksaan Rinne
o   Pegang agrpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak atau buku jari tangan yang berlawanan.
o   Letakkan tangkai garpu tala pada prosesus mastoideus klien.
o   Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi.
o   Angkat garpu tala dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu tala parallel terhadap lubang telinga luar klien.
o   Instruksikan  klien untuk member tahu apakah ia masih mendengarkan suara atau tidak.
o   Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut.
b)      Pemeriksaan Webber
o   Pegang garpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak atau buku jari yang berlawanan.
o   Letakkan tangkai garpu tala di tengah puncak kepala klien .
o   Tanyakan pada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua telinga atau lebih jelas pada salah satu telinga.
o   Catat hasil pemeriksaan dengan pendengaran tersebut.
8        Pemeriksan hidung dan sinus
Tujuan
§  Mengetahui bentuk dan fungsi hidung
§  Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya inflamasi atau infeksi
Persiapan Alat
§  Spekulum hidung
§  Senter kecil
§  Lampu penerang
§  Sarung tangan (jika perlu)
Prosedur Pelaksanaan
·         Inspeksi  : hidung eksternal (bentuk, ukuran, warna, kesimetrisan), rongga, hidung ( lesi, sekret, sumbatan, pendarahan), hidung internal (kemerahan, lesi, tanda2 infeksi)
Normal: simetris kika, warna sama dengan warna kulit lain, tidak ada lesi, tidak ada sumbatan, perdarahan dan tanda-tanda infeksi.
·         Palpasi  dan Perkusi frontalis dan, maksilaris  (bengkak, nyeri, dan septum deviasi)
Normal: tidak ada bengkak dan nyeri tekan. setelah diadakan pemeriksaan hidung dan sinus evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
9        Pemeriksaan mulut dan bibir
Tujuan
§  Mengetahui bentuk kelainan mulut
Persiapan Alat
§   Senter kecil
§   Sudip lidah
§  Sarung tangan bersih
§  Kasa
Prosedur Pelaksanaan
·         Inspeksi dan palpasi struktur luar : warna mukosa mulut dan bibir, tekstur , lesi, dan stomatitis.
Normal: warna mukosa mulut dan bibir pink, lembab, tidak ada lesi dan stomatitis.
·         2.     Inspeksi dan palpasi strukur dalam : gigi lengkap/penggunaan gigi palsu, perdarahan/ radang gusi, kesimetrisan, warna, posisi lidah, dan keadaan langit2. Normal: gigi lengkap, tidak ada tanda-tanda gigi berlobang atau kerusakan gigi, tidak ada perdarahan atau radang gusi, lidah simetris, warna pink, langit2 utuh dan tidak ada tanda infeksi.
·         Gigi lengkap pada orang dewasa berjumlah 36 buah, yang terdiri dari 16 buah di rahang atas dan 16 buah di rahang bawah. Pada anak-anak gigi sudah mulai tumbuh pada usia enam bulan. Gigi pertama tumbuh dinamakan gigi susu di ikuti tumbuhnya gigi lain yang disebut gigi sulung. Akhirnya pada usia enam tahun hingga empat belas tahun, gigi tersebut mulai tanggal dan dig anti gigi tetap.
·         Pada usia 6 bulan gigi berjumlah 2 buah (dirahang bawah), usia 7-8 bulan berjumlah 7 buah(2 dirahang atas dan 4 dirahang bawah) , usia 9-11 bulan berjumlah 8 buah(4 dirahang atas dan 4 dirahang bawah), usia 12-15 bulan gigi berjumlah 12 buah (6 dirahang atas dan 6 dirahang bawah), usia 16-19 bulan berjumlah 16 buah (8 dirahang atas dan 8 dirahang bawah), dan pada usia 20-30 bulan berjumlah 20 buah (10 dirahang atas dan 10 dirahang bawah) setelah diadakan pemeriksaan mulut dan bibir evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
10    Pemeriksaan leher
Tujuan
o   a)     Menentukan struktur integritas leher
o   b)     Mengetahui bentuk leher serta organ yang berkaitan
o   c)      Memeriksa system limfatik
      Persiapan Alat
o   Stetoskop
Prosedur Pelaksanaan
·         Inspeksi leher: warna integritas, bentuk simetris.
Normal: warna sama dengan kulit lain, integritas kulit baik, bentuk simetris, tidak ada pembesaran kelenjer gondok.
·         Inspeksi dan auskultasi arteri karotis: lokasi pulsasi Normal: arteri karotis terdengar.
·         Inspeksi dan palpasi kelenjer tiroid (nodus/difus, pembesaran,batas, konsistensi, nyeri, gerakan/perlengketan pada kulit), kelenjer limfe (letak, konsistensi, nyeri, pembesaran), kelenjer parotis (letak, terlihat/ teraba) Normal: tidak teraba pembesaran kel.gondok, tidak ada nyeri, tidak ada  pembesaran kel.limfe, tidak ada nyeri.
·          Auskultasi : bising pembuluh darah. Setelah diadakan pemeriksaan leher evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
11    Pemeriksaan dada( dada dan punggung)
Posisi klien: berdiri, duduk dan berbaring
Cara/prosedur:


  1. System pernafasan
Tujuan :
o   Mengetahui bentuk, kesimetrisas, ekspansi, keadaan kulit, dan dinding dada
o   Mengetahui frekuensi, sifat, irama pernafasan,
o   Mengetahui adanya nyeri tekan, masa, peradangan, traktil premitus
Persiapan alat
o   a)     Stetoskop
o   b)     Penggaris centimeter
o   c)      Pensil penada
Prosedur pelaksanaan
·         Inspeksi : kesimetrisan, bentuk/postur  dada, gerakan nafas (frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya  pernafasan/penggunaan otot-otot bantu pernafasan), warna kulit, lesi, edema, pembengkakan/ penonjolan.
Normal: simetris, bentuk dan postur normal, tidak ada tanda-tanda distress pernapasan, warna kulit sama dengan warna kulit lain, tidak ikterik/sianosis, tidak ada pembengkakan/penonjolan/edema
·         Palpasi: Simetris, pergerakan dada, massa dan lesi, nyeri, tractile fremitus. (perawat berdiri dibelakang pasien, instruksikan pasien untuk mengucapkan angka “tujuh-tujuh” atau “enam-enam” sambil melakukan perabaan dengan kedua telapak tangan pada punggung pasien.)
Normal: integritas kulit baik, tidak ada nyeri tekan/massa/tanda-tanda peradangan, ekspansi simetris, taktil vremitus cendrung sebelah kanan lebih teraba jelas.
·         Perkusi: paru, eksrusi diafragma (konsistensi dan bandingkan satu sisi dengan satu sisi lain pada tinggi yang sama dengan pola berjenjang sisi ke sisi)
Normal: resonan (“dug dug dug”), jika bagian padat lebih daripada bagian udara=pekak (“bleg bleg bleg”), jika bagian udara lebih besar dari bagian padat=hiperesonan (“deng deng deng”), batas jantung=bunyi rensonan----hilang>>redup.
·         Auskultasi: suara nafas, trachea, bronchus, paru. (dengarkan dengan menggunakan stetoskop di lapang paru kika, di RIC 1 dan 2, di atas manubrium dan di atas trachea) Normal: bunyi napas vesikuler, bronchovesikuler, brochial, tracheal. Setelah diadakan pemeriksaan dada evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
  1. System kardiovaskuler
Tujuan
a)     Mengetahui ketifdak normalan denyut jantung
b)     Mengetahui ukuran dan bentuk jantug secara kasar
c)      Mengetahui bunyi jantung normal dan abnormal
d)     Mendeteksi gangguan kardiovaskuler
Persiapan alat
a)     Stetoskop
b)     Senter kecil
Prosedur pelaksanaan
·         Inspeksi : Muka bibir, konjungtiva, vena jugularis, arteri karotis
·         Palpasi: denyutan. Normal untuk inspeksi dan palpasi: denyutan aorta teraba.
·         Perkusi: ukuran, bentuk, dan batas jantung (lakukan dari arah samping ke tengah dada, dan dari atas ke bawah sampai bunyi redup) Normal: batas jantung: tidak lebih dari 4,7,10 cm ke arah kiri dari garis mid sterna, pada RIC 4,5,dan 8.
·         Auskultasi: bunyi jantung, arteri karotis. (gunakan bagian diafragma dan bell dari stetoskop untuk mendengarkan bunyi jantung. )
Normal: terdengar bunyi jantung I/S1 (lub) dan bunyi jantung II/S2 (dub), tidak ada bunyi jantung tambahan (S3 atau S4). Setelah diadakan pemeriksaan system kardiovaskuler evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil  pemeriksaan yang didapat tersebut.
12     Dada dan aksila
Tujuan
a)     Mengetahui adanya masa atau ketidak teraturan dalam jaringan payudara
b)     Mendeteksi awal adanya kanker payudara
Persiapan alat
a)     Sarung tangan sekali pakai (jika diperlukan)
Prosedur pelaksanaan
·          Inspeksi payudara: Integritas kulit
·         Palpasi payudara: Bentuk, simetris, ukuran, aerola, putting, dan penyebaran vena
·         Inspeksi dan palpasi aksila: nyeri, perbesaran nodus limfe, konsistensi.
Setelah diadakan pemeriksaan dada dan aksila evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
13    Pemeriksaan Abdomen (Perut)
Posisi klien: Berbaring
Tujuan
a)     Mengetahui betuk dan gerakan-gerakan perut
b)     Mendengarkan suara peristaltic usus
c)      Meneliti tempat nyeri tekan, organ-organ dalam rongga perut benjolan dalam perut.
Persiapan
a)     Posisi klien: Berbaring
b)     Stetoskop
c)      Penggaris kecil
d)     Pensil gambar
e)     Bntal kecil
f)       Pita pengukur


Prosedur pelaksanaan
·         Inspeksi : kuadran dan simetris, contour, warna kulit, lesi, scar, ostomy, distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan umbilicus,  dan gerakan dinding perut.
Normal: simetris kika, warna dengan warna kulit lain, tidak ikterik tidak terdapat ostomy, distensi, tonjolan, pelebaran vena, kelainan umbilicus.
·         Auskultasi : suara peristaltik (bising usus) di semua kuadran (bagian diafragma dari stetoskop) dan suara pembuluh darah dan friction rub :aorta, a.renalis, a. illiaka (bagian bell).
Normal:  suara peristaltic terdengar setiap 5-20x/dtk, terdengar denyutan arteri renalis, arteri iliaka dan aorta.
·         Perkusi semua kuadran : mulai dari kuadran kanan atas bergerak searah jarum jam, perhatikan jika klien merasa nyeri dan bagaiman kualitas bunyinya.
·         Perkusi hepar: Batas
·         Perkusi Limfa: ukuran dan batas
·         Perkusi ginjal: nyeri
Normal: timpani, bila hepar dan limfa membesar=redup dan apabila banyak cairan = hipertimpani
·         Palpasi semua kuadran (hepar, limfa, ginjal kiri dan kanan): massa, karakteristik organ, adanya asistes, nyeri irregular, lokasi, dan nyeri.dengan cara perawat menghangatkan tangan terlebih dahulu
Normal: tidak teraba penonjolan tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa dan penumpukan cairan
Setelah diadakan pemeriksaan abdomen evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
14     Pemeriksaan ekstermitas atas (bahu, siku, tangan)
Tujuan :
o   Memperoleh data dasar tetang otot, tulang dan persendian
o   Mengetahui adanya mobilitas, kekuatan atau adanya gangguan pada bagian-bagian tertentu.
Alat :
o   Meteran
Posisi klien: Berdiri. duduk
·         Inspeksi struktur muskuloskletal : simetris dan pergerakan, Integritas ROM, kekuatan dan tonus otot.
Normal: simetris kika, integritas kulit baik, ROM aktif, kekuatan otot penuh.
·         Palapasi: denyutan a.brachialis dan a. radialis .
Normal: teraba jelas
·         Tes reflex :tendon trisep, bisep, dan brachioradialis.
Normal: reflek bisep dan trisep positif
Setelah diadakan pemeriksaan ekstermitas atas evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
15    Pemeriksaan ekstermitas bawah (panggul, lutut, pergelangan kaki dan telapak kaki)
·         Inspeksi struktur muskuloskletal : simetris dan pergerakan, integritas kulit, posisi dan letak, ROM, kekuatan dan tonus otot
Normal: simetris kika, integritas kulit baik, ROM aktif, kekuatan otot penuh
·         Palpasi : a. femoralis, a. poplitea, a. dorsalis pedis: denyutan
Normal: teraba jelas
·         Tes reflex :tendon patella dan archilles.
Normal: reflex patella dan archiles positif
Setelah diadakan pemeriksaan ekstermitas bawah evaluasi hasil yang di dapat dengan membandingkan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
16    Pemeriksaan genitalia (alat genital, anus, rectum)
Posisi Klien : Pria berdiri dan wanita litotomy
Tujuan:
o   Melihat dan mengetahui organ-organ yang termasuk dalam genetalia.
o   Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia, misalnya varises, edema, tumor/ benjolan, infeksi, luka atau iritasi, pengeluaran cairan atau darah.
o   Melakukan perawatan genetalia
o   Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan.
Alat :
o   Lampu yang dapat diatur pencahayaannya
o   Sarung tangan
a)      Pemeriksaan rectum
Tujuan :
o   Mengetahui kondisi anus dan rectum
o   Menentukan adanya masa atau bentuk tidak teratur dari dinding rektal
o   Mengetahui intregritas spingter anal eksternal
o   Memeriksa kangker rectal dll
Alat :
o   Sarung tangan sekali pakai
o   Zat  pelumas
o   Penetangan untuk pemeriksaan
Prosedur Pelaksanaan
Ø  Wanita:
·         Inspeksi genitalia eksternal: mukosa kulit, integritas kulit, contour simetris, edema, pengeluaran.
Normal: bersih, mukosa lembab, integritas kulit baik, semetris tidak ada edema dan tanda-tanda infeksi (pengeluaran pus /bau)
·         Inspeksi vagina dan servik : integritas kulit, massa, pengeluaran
·         Palpasi vagina, uterus dan ovarium: letak ukuran, konsistensi dan,  massa
·         Pemeriksaan anus dan rectum: feses, nyeri, massa edema, haemoroid, fistula ani pengeluaran dan perdarahan.
Normal: tidak ada nyeri, tidak terdapat edema /  hemoroid/ polip/ tanda-tanda infeksi dan pendarahan.
Setelah diadakan pemeriksaan di adakan pemeriksaan genitalia evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.
Ø  Pria:
·         Inspeksi dan palpasi penis: Integritas kulit, massa dan pengeluaran
Normal: integritas kulit baik, tidak ada masa atau pembengkakan, tidak ada pengeluaran pus atau darah
·         Inspeksi dan palpassi skrotum: integritas kulit, ukuran dan bentuk, turunan testes dan mobilitas, massa, nyeri dan tonjolan.
Normal : integritas kulit baik, sistematika tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri teken
·         Pemeriksaan anus dan rectum : feses, nyeri, massa, edema, hemoroid, fistula ani, pengeluaran dan perdarahan.
Normal:  tidak ada nyeri , tidak terdapat edema /  hemoroid/ polip/ tanda-tanda infeksi dan pendarahan.
Setelah diadakan pemeriksaan dadadan genitalia wanita evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut.

  1. Evaluasi
Perawat bertanggung jawab untuk asuhan keperawatan yang mereka berikan dengan mengevaluasi hasil intervensi keperawatan. Keterampilan pengkajian fisik meningkatkan evaluasi tindakan keperawatan melalui pemantauan hasil asuhan fisiologis dan perilaku. Keterampilan pengkajian fisik yang sama di gunakan untuk mengkaji kondisi dapat di gunakan sebagai tindakan evaluasi setelah asuhan diberikan.
            Perawat membuat pengukuran yang akurat, terperinci, dan objektif melalui pengkajian fisik. Pengukuran tersebut menentukan tercapainya atau tidak hasil asuhan yang di harapkan. Perawat tidak bergantung sepenuhnya pada intuisi ketika pengkajian fisik dapat digunakan untuk mengevaluasi keefektifan asuhan.
  1. Dokumentasi
Perawat dapat memilih untuk mencatat hasil dari pengkajian fisik pada pemeriksaan atau pada akhir pemeriksaan. Sebagian besar institusi memiliki format khusus  yang mempermudah pencatatan data pemeriksaan. Perawat meninjau semua hasil  sebelum membantu klien berpakaian, untuk berjaga-jaga seandainya perlu memeriksa kembali informasi atau mendapatkan data tambahan. Temuan dari pengkajian fisik dimasukkan ke dalam rencana asuhan.
Data di dokumentasikan berdasarkan format SOAPIE, yang hamper sama dengan langkah-langkah proses keperawatan.
Format SOAPIE, terdiri dari:
·         Data (riwayat) Subjektif, yaitu apa yang dilaporkan klien
·         Data (fisik) Objektif, yaitu apa yang di observasi, inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi oleh perawat.
·         Assessment (pengkajian) , yaitu diagnose keperawatan dan pernyataan tentang kemajuan atau kemunduran klien
·         Plan (Perencanaan), yaitu rencana perawatan klien
·         Implementation (pelaksanaan), yaitu intervensi keperawatan dilakukan berdasarkan rencana
·         Evaluation (evaluasi), yaitu tinjauan hasil rencana yang sudah di implementasikan.








BAB VII
BODY MEKANIK DAN AMBULASI


  1. Definisi Mekanika Tubuh
Mekanik tubuh adalah usaha koordinasi diri muskoloskeletal dan sistem saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanika tubuh dan ambulasi merupakan bagian dari kebutuhan aktivitas manusia.
Sebelum melakukan mekanika tubuh, terdapat beberapa pergerakkan dasar yang harus diperhatikan, sebagai berikut :
1)      Gerakan (ambulating)
Gerakan yang benar akan membantu mempertahankan keseimbangan tubuh. Misal, orang yang berdiri akan lebih mudah stabil dibanding orang yang berjalan, karena pada posisi berjalan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi yang satu ke sisi yang lain.
2)      Menahan (squatting)
Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan dilakukan.
3)      Menarik (pulling)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menarik benda, diantaranya ketinggian, letak benda, posisi kaki dan tubuh sewaktu menarik (seperti condong ke depan dari panggul), sodorkan telapak tangan dan lengan atas dibawah pusat gravitasi pasien, lengan atas dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lutut dan pergelangan kaki ditekuk dan lalu lakukan penarikan.
4)      Mengangkat (lifting)
Mengangkat merupakan pergerakan daya tarik. Gunakan otot-otot besar dari tumit, paha bagian atas dan kaki bagian bawah, perut dan pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang.
5)      Memutar (pivoting)
Memutar gerakan utuk memutar anggota tubuh dan bertumpu pada tulang belakang.

  1. Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Mekanika Tubuh
1        Status kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal dan sistem saraf berupa penurunan koordinasi sehingga dapat mempengaruhi mekanika tubuh.
2        Pengetahuan
Pengetahuan yang baik terhadap mekanika tubuh akan mendorong seseorang untuk mempergunakannya secara benar, sehingga akan mengurangi energi yang dikeluarkan.
3        Situasi dan kebiasaan
Misalnya sering mengangkat benda-benda berat.
4        Gaya hidup
Perubahan pola hidup seseorang akan menyebabkan stres sehingga menimbulkan kecerobohan dalam beraktivitas, sehingga dapat mengganggu koordinasi antara sistem muskuloskeletal dan neurologi, yang akhirnya akan mengakibatkan perubahan mekanika tubuh.
5        Emosi
Seseorang yang mengalami perasaan tidak aman, tidak bersemangat, dan harga diri yang rendah, akan mudah mengalami perubahan dalam mekanika tubuh dan ambulasi.
6        Nutrisi
Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat menyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadinya penyakit.

  1. Mobilisasi Dan Ambulasi
Ambulasi adalah upaya seseorang untuk melakukan latihan jalan atau berpindahtempat sedangkan Mobilisasi merupakan suatu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.
1        Jenis-Jenis Mobilisasi
Ø  Mobilitas penuh
Kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosisal dan menjalankan peran sehari hari.
Ø  Mobilitas Sebagian
Kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan yang jelas sehingga tidak maampu bergerak secara bebas. Mobilitas Sebagian terdiri dari :
·         Mobilitas sebagian temporer
·         Mobilitas sebagian permanen
2        Tujuan Mobilisasi
Ø  Mempertahankan fungsi tubuh
Ø  Memperlancar peredaran darah sehingga mempercepat penyembuhan luka
Ø  Membantu pernafasan menjadi lebih baik
Ø  Mempertahankan tonus otot
Ø  Memperlancar eliminasi Alvi dan Urin
Ø  Mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal
Ø  Memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi atau berkomunikasi.
3        Faktor-faktor yang mempengaruhi Mobilisasi:
a)      Gaya Hidup :Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk.
b)      Proses penyakit dan injury : Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untukobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.
c)      Kebudayaan : Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya.
d)     Tingkat Energy : Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
e)      Usia dan status perkembangan : Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.
f)       Tipe persendian dan pergerakan sendi : Dalam sistim muskuloskeletal dikenal 2 maca persendian yaitu sendi yang dapat digeragan (diartroses) dan sendi yang tidak dapat digerakan (siartrosis).
4        Toleransi Aktifitas
Penilaian tolerasi aktifitas sangat penting terutama pada klien dengan gangguan kardiovaskuler seperti Angina pektoris, Infark, Miocard atau pada klien dengan immobiliasi yang lama akibat kelumpuhan.Hal tersebut biasanya dikaji pada waktu sebelum melakukan mobilisai, saat mobilisasi dan setelah mobilisasi. Tanda - tanda yang dapat di kaji pada intoleransi aktifitas antara lain (Gordon, 1976) :
·         Denyut nadi frekuensinya mengalami peningkatan, irama tidak teratur
·         Tekanan darah biasanya terjadi penurunan tekanan sistol/hipotensi orthostatic
·         Pernafasan terjadi peningkatan frekuensi, pernafasan cepat dangkal
·         Warna kulit dan suhu tubuh terjadi penurunan
·         Kecepatan dan posisi tubuh.disini akan mengalami kecepatan aktifitas dan ketidak stabilan posisi tubuh
·         Status emosi labil.
5        Masalah Fisik :
·         Masalah muskuloskeletal : Menurunnya kekuatan dan kemampuan otot, atropi, kontraktur, penurunan mineral, tulang dan kerusakan kulit
·         Masalah urinari : Terjadi statis urine pada pelvis ginjal, pengapuran infeksi saluran kemih dan inkontinentia urine.
·         Masalah gastrointestinal : Terjadinya anoreksia/penurunan nafsu makan diarrhoe dan konstipasi
·         Masalah respirsi : Penurunan ekspansi paru, tertumpuknya sekret dalam saluran nafas, ketidak seimbangan asam basa (CO2 O2)
·         Masalah kardiovaskuler : Terjadinya hipotensi orthostatic, pembentukan trombus
6        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mobilisasi
Ø  Gaya hidup
Ø  Proses penyakit/injury
Ø  Kebudayaan
Ø  Tingkat energy seseorang
Ø  Usia dan status perkembangan.
7        Macam-Macam Pergerakan
Ø  Fleksi dan ekstensi
Gerak menekuk atau membengkokkan
Ø  Adduksi dan abduksi
Adduksi adalah gerakan mendekati tubuh. Abduksi adalah gerakan menjauhi tubuh
Ø  Elevasi dan depresi
Elevasi merupakan gerakan mengangkat. Depresi adalah gerakan menurunkan
Ø  Inversi dan eversi
Inversi adalah gerak memiringkan telapak kaki ke dalam tubuh
Eversi adalah gerakan memiringkan telapak kaki ke luar
Ø  Supinasi dan pronasi
Supinasi adalah gerakan menengadahkan tangan. Pronasi adalah gerakan menelungkupkan
Ø  Endorotasi dan eksorotasi
Endorotasi adalah gerakan kedalam pd sekliling sumbu panjang tulang yg bersendi. Eksorotasi adalah gerakan rotas ke luar

  1. Pengaturan Posisi
1        Posisi fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan.
Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernafasan pasien.
2        Posisi Sims
Posisi sims adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri. Posisi ini dilakukan untuk member kenyamanan dan memberikan obat supositoria melalui anus.
3        Posisi Trendelenburg
Posisi trendelenburg adalah posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.
4        Posisi Dorsal Recumbent
Posisi dorsal recumbent adalah posisi berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau diregangkan) diatas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa genitalia serta proses persalinan.
5        Posisi Lithotomic
Posisi lithotomic adalah posisi berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genitalia pada proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi.
6        Posisi Genu Pectoral
Posisi genu pectoral adalah posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rectum.

  1. ROM ( Range of Motion) (Latihan Rentang Gerak)
ROM ( Range of Motion) adalah kemampuan klien untuk menggerakan sendi agar tidak terjadi kekakuan, pembengkaan, nyeri, keterbatasan sendi, dan gerakan yang tidak seimbang. Hal ini bertujuan memelihara dan mempertahankan kekuatan otot serta memelihara pergerakan sendi
Tes aktif dan pasif merupakan suatu metode yang digunakan untuk membedakan keterbatasan ROM. Pada tes aktif, pasien menggunakan ototnya  sendiri untuk menilai ROM, sedangkan tes pasif, pemeriksa menggerakkan anggota gerak pasien untuk mendapatkan ROM. Tes pasif merupakan suatu cara yang dilakukan jika pasien mendapat kesulitan untuk melakukan tes aktif. Secara umum, jika pasien mampu melakukan aktif ROM dengan baik  tanpa ada nyeri atau kesulitan maka tidak diperlukan bantuan untuk dilakukan tes pasif.
1.      Tes Aktif ROM
Tes Aply “Scratch” (tes garukan) merupakan tes aktif yang cepat untuk mengetahui ROM. Pertama abduksi dan eksternal rotasi, mintalah pasien untuk menggapai belakang kepalanya dan menyentuh sudut superior medial scapula yang disebelahnya. Kemudian untuk membangdingkan ROM internal rotasi dan adduksi, mintalah pasien untuk menggapai belakang kepala hingga menggapai acromion. Selanjutnya tes internal rotasi dan adduksi, mintalah pasien untuk menggapai pinggangnya hingga menyentuh sudut inferior scapula yang berhadapan. Perhatikan gerakan pasien selama semua phase tes ini, untuk mengetahui adanya keterbatasan gerak atau abnormalitas irama gerak dan simetri tidaknya.
Untuk menilai ROM yang lain, mintalah p[asien mengabduksikan lengannya sekitar 90?, jagalah agar elbow tetap lurus. Kemudian mintalah dia untuk memutar telapak tangannya pada posisi supinasi dan dilanjutkan dengan abduksi hingga tangannya saling bertemu diatas kepala. Ini akan ditunjukkan secara bilateral full abduksi dan sebagai pelengkap untuk membandingkan kedua sisinya secara langsung. Kemudian mintalah pasien untuk meletakkan tangannya dibelakang leher dan tekanlah elbownya kearah posterior untuk mengetes abduksi dan eksternal rotasi. Akhirnya, untuk tes abduksi dan internal rotasi, mintalah pasien untuk meletakkan kedua tangannya dibelakang pinggang setinggi kemampuannya sambil menggaruk sudut inferior scapula.
Keuntungan tes ROM dengan cara ini adalah pasien dapat menunjukkan gerakkan pada kedua sisi secara berkelanjutan, dan buatlah pemeriksaan menjadi mudah untuk gerakkan yang sifatnya simetri serta tandai setiap ada gangguan pada sisi yang abnormal.
2.      Tes Pasif ROM
Jika pasien tidak dapat melakukan beberapa gerakkan pada shoulder girdle, tes pasif ROM dapat dilakukan. Seorang pasien yang tidak dapat melakukan ROM aktif dengan penuh pada beberapa macam variasi gerakan, dia mungkin mengalami kelemahan otot, contractur, soft tissue (didalam capsul atau ligament atau dari contractur otot) atau tulang yang terblockage (tulang yang menyatu atau excrescences).Tes pasif tidak menggunakan kekuatan otot pasien sendiri sebagai pertimbangan keadaannya tapi menggunakan kekuatan si pemeriksa. Suatu tes pasif digunakan untuk mengetahui ada tidaknya keterbatasan gerak yang sesuai dengan dan tampak kekuatan otot. Jika sendi dapat full ROM dengan tes pasif, maka kita dapat menduga ada kelemahan otot yang menyebabkan keterbatasan.
Jika keterbatasan gerak tetap trjadi pada tes pasif, maka kelemahan otot bisa hapus dari penyebab keterbatasan, dan tulang (intra articular) atau soft tissue (extra articular) blockage yang dicurigai, meskipun demikian kelemahan otot bisa juga dihasilkan dari tidak digunakannya sendi. Untuk membedakan antara blockage intra articular dan extra articular, periksa kualitas dan rasa blockage didalam sendi. Jika blockage berupa seperti karet, berikan sedikit tekanan dibawahnya, ada kemungkinan extra articular (soft tissue) blockage). Jika dengan cara lain blockage berupa tidak fleksibel dan ROM berakhir dengan suatu kepatahan, ada kemungkinan intra articular (tulang) yang terblokckage.
Hal ini harus ditekankan pada pasien yang total rileks selama dilakukan tes, jika dia tegang, takut atau merasa tidak aman saat kau tangani, maka ototnya akan menegang dan membatasi sendi, yang tidak memungkinkan terjadinya pasif full ROM. Hal ini penting, sehingga tes ini perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya. Tes pasif dapat dilakukan dengan cara pasien duduk atau berdiri. Elbownya harus bengkok selama tes sebab dengan fleksi elbow menghindarkan terjadinya gerakan membengkok arm, buatlah gerakan shoulder girdle dengan mudah dan lebih tepat. Pada tes pasif, satu tangan menstabilisasi extremitas dan yang lain memanipulasi anggota gerak.
Saat tes ROM pada shoulder girdle (khususnya abduksi), yang harus diingat bahwa gerakan itu akan terbagi menjadi 3 kategori yaitu :
a. Gerakan glenohumeral yang kurang
b. Gerakan scapulothiracic dan
c. Kombinasi dari gerakan glenohumeral dan scapulothoracic
3.      Gerakan Range Of Motion
Ø  Fleksi dan ekstensi leher (kepala)
Gerakkan kepala kearah atas dan bawah dengan rentang 4x 8 kali.
Gerakkan kepala (leher) seperti melihat kearah kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Gerakkan leher kasampang kanan dan kiri denga rentang gerak 4x8 kali.
Ø  Fleksi Dan Ekstensikan Pergelangan Tangan
Ø  Gerakkan tangan ke atas dan kebawah pada tangan kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Fleksi dan ekstensikan siku
Ø  Gerakkan siku keatas dan kebawah pada siku kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Pronasi dan supinasi lengan bawah
Gerakkan tangan seperti melambaikan tangan, pada tangan kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Fleksi Bahu
Rentangan tangan lurus, pada tangan kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Abduksi dan adduksi bahu
Gerakkan tangan menjauhi tubuh seperti membuat seperembat lingkaran, pada tangan kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Rotasi bahu
Putarkan tangan seperti membentuk lingkaran pada tangan kanan dan kiri dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Fleksi dan ekstensikan jari-jari
Gerakkan jari kaki, ke atas dan kebawah pada kaki kiri dan kanan dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Infersi dan efersi kaki
Putar pergelangan kaki seperti membentuk lingkaran pada kaki kiri dan kanan dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki
Gerakkan telapak kaki kearah betis, serta menjauhi lutut, pada kaki kiri dan kanan dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Fleksi dan ekstensi lutut
Gerakkan lutut se atas dan kebawah, seperti posisi mengkayuh sepeda (lihat gambar) pada kaki kiri dan kanan dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Rotasi pangkal paha
Putar kaki kearah kanan dan kiri tubuh, pada kaki kiri dan kanan dengan rentang 4 x 8 kali.
Ø  Abduksi dan adduksi pangkal paha
Gerakkan kaki menjauhi tubuh, seperti membentuk seperempat lingkaran, pada kaki kiri dan kanan dengan rentang 4 x 8 kali.




BAB VIII
KEBUTUHAN OKSIGENASI

  1. Definisi
Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam kehidupan manusia. Dalam tubuh, oksigen berperan penting di dalam proses metabolisme sel. Oksigenisasi adalah proses penambahan O2 ke dalam system. Saat bernapas, tubuh mengambil O2 dari lingkungan untuk kemudian di angkut ke seluruh tubuh melalui darah duna di lakukan pembakaran. Selanjutnya, sisa pembakaran berupa CO2 akan kembali di angkut oleh darah ke paru-paru umtuk di buang ke lingkungan karena tidak berguna lagi oleh tubuh.
Oksigen (O2) adalah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Oksigenasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung Oksigen (O2) kedalam tubuh serta menghembuskan Karbondioksida (CO2) sebagai hasil sisa oksidasi.
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh sistem respirasi (pernafasan), kardiovaskuler dan hematology.

  1. Sistem Pernafasan
Sistem pernafasan terdiri dari organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernafasan, diagfragma, isi abdomen, dinding abdomen dan pusat pernafasan di otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernafasan 12-15 kali per menit. Ada 3 langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan difusi.
1.      Ventilasi
Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan paru-paru, jumlahnya sekitar 500 ml. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis serta persyarafan yang utuh. Otot pernapasan inspirasi utama adalah diagfragma.Diafragma dipersyarafi oleh saraf frenik, yang keluarnya dari medulla spinalis pada vertebra servikal keempat.
Udara yang masuk dan keluar terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara intrapleura dengan tekanan atmosfer, dimana pada inspirasi tekanan intrapleural lebih negative (725 mmHg) daripada tekanan atmosfer (760 mmHG) sehingga udara masuk ke alveoli.
a)      Kepatenan Ventilasi terganutung pada faktor :
b)      Kebersihan jalan nafas, adanya sumbatan atau obstruksi jalan napas akan menghalangi masuk dan keluarnya udara dari dan ke paru-paru.
c)      Adekuatnya sistem saraf pusat dan pusat pernafasan
d)      Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru
e)      Kemampuan otot-otot pernafasan seperti diafragma, eksternal interkosa, internal interkosa, otot abdominal.
2.      Perfusi Paru
Perfusi paru adalah gerakan darah melewati sirkulasi paru untuk dioksigenasi, dimana pada sirkulasi paru adalah darah deoksigenasi yang mengalir dalam arteri pulmonaris dari ventrikel kanan jantung.Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta dalam proses pertukaan oksigen dan karbondioksida di kapiler dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung. Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi volume darah yang besar sehingga digunakan jika sewaktu-waktu terjadi penurunan voleme atau tekanan darah sistemik.
3.      Difusi
Oksigen terus-menerus berdifusi dari udara dalam alveoli ke dalam aliran darah dan karbon dioksida (CO2) terus berdifusi dari darah ke dalam alveoli. Difusi adalah pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke area konsentrasi rendah. Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan membrane kapiler. Perbedaan tekanan pada area membran respirasi akan mempengaruhi proses difusi. Misalnya pada tekanan parsial (P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan tekanan parsial pada kapiler pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi masuk ke dalam darah. Berbeda halnya dengan CO2 dengan PCO2 dalam kapiler 45 mmHg sedangkan pada alveoli 40 mmHg maka CO2 akan berdifusi keluar alveoli.

  1. Anatomi Saluran Nafas
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, farinx, larinx, trachea, bronkus, dan bronkiolus.
1.      Hidung
Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum.
anatomi-fisiologi-saluran-nafas
Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Septum nasi memisahkan kedua cavum nasi. Struktur ini tipis terdiri dari tulang dan tulang rawan, sering membengkok kesatu sisi atau sisi yang lain, dan dilapisi oleh kedua sisinya dengan membran mukosa. Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh sebagian maxilla, palatinus, dan os. Sphenoidale. Tulang lengkung yang halus dan melekat pada dinding lateral dan menonjol ke cavum nasi adalah : conchae superior, media, dan inferior. Tulang-tulang ini dilapisi oleh membrane mukosa.
Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale dan os palatinus sedangkan atap cavum nasi adalah celah sempit yang dibentuk oleh os frontale dan os sphenoidale. Membrana mukosa olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan, mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat saraf melewati lamina cribriformis os frontale dan kedalam bulbus olfaktorius nervus cranialis I olfaktorius.
Sinus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan melalui lubang kedalam cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membrana mukosa yang bersambungan dengan cavum nasi. Lubang yang membuka kedalam cavum nasi :
a)      Lubang hidung
b)      Sinus Sphenoidalis, diatas concha superior
c)      Sinus ethmoidalis, oleh beberapa lubang diantara concha superior dan media dan diantara concha media dan inferior
d)      Sinus frontalis, diantara concha media dan superior
e)      Ductus nasolacrimalis, dibawah concha inferior.
Pada bagian belakang, cavum nasi membuka kedalam nasofaring melalui appertura nasalis posterior.
2.      Faring (tekak)
Adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal). Orofaring adalah bagian dari faring merrupakan gabungan sistem respirasi dan pencernaan.
3.      Laring (tenggorok)
Terletak pada garis tengah bagian depan leher, sebelah dalam kulit, glandula tyroidea, dan beberapa otot kecila, dan didepan laringofaring dan bagian atas esopagus. Laring merupakan struktur yang lengkap terdiri atas: Cartilago yaitu cartilago thyroidea, epiglottis, cartilago cricoidea, dan 2 cartilago arytenoidea
a)      Membarana yaitu menghubungkan cartilago satu sama lain dan dengan os. Hyoideum, membrana mukosa, plika vokalis, dan otot yang bekerja pada plica vokalis
b)      Cartilago tyroidea à berbentuk V, dengan V menonjol kedepan leher sebagai jakun. Ujung batas posterior diatas adalah cornu superior, penonjolan tempat melekatnya ligamen thyrohyoideum, dan dibawah adalah cornu yang lebih kecil tempat beratikulasi dengan bagian luar cartilago cricoidea.
c)      Membrana Tyroide à mengubungkan batas atas dan cornu superior ke os hyoideum. Membrana cricothyroideum à menghubungkan batas bawah dengan cartilago cricoidea.
d)      Epiglottis. Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang dasar lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang V cartilago thyroideum.
e)      Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk laring
f)       Cartilago cricoidea. Cartilago berbentuk cincin signet dengan bagian yang besar dibelakang. Terletak dibawah cartilago tyroidea, dihubungkan dengan cartilago tersebut oleh membrane cricotyroidea. Cornu inferior cartilago thyroidea berartikulasi dengan cartilago tyroidea pada setiap sisi. Membrana cricottracheale menghubungkan batas bawahnya dengan cincin trachea I
g)      Cartilago arytenoidea. Dua cartilago kecil berbentuk piramid yang terletak pada basis cartilago cricoidea. Plica vokalis pada tiap sisi melekat dibagian posterio sudut piramid yang menonjol kedepan
h)      Membrana mukosa
Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius, terdiri dari sel-sel silinder yang bersilia. Plica vocalis dilapisi oleh epitel skuamosa.
4.      Trachea atau batang tenggorok
Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 – 20 lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
5.      Bronchus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru-paru.
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
6.      Paru-Paru
paru-paru
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Paru-paru memilki :
a)      Apeks, apeks paru meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula
b)      Permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada
c)      Permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
d)      Dan basis. Terletak pada diafragma
Paru-paru juga Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikasi. Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. Suplai Darah
·         Arteri pulmonalis
·         Arteri bronkialis
Innervasi
1. Parasimpatis melalui nervus vagus
2. Simpatis mellaui truncus simpaticus
Sirkulasi Pulmonal
Paru-paru mempunyai 2 sumber suplai darah, dari arteri bronkialis dan arteri pulmonalis. Darah di atrium kanan mengair keventrikel kanan melalui katup AV lainnya, yang disebut katup semilunaris (trikuspidalis). Darah keluar dari ventrikel kanan dan mengalir melewati katup keempat, katup pulmonalis, kedalam arteri pulmonais. Arteri pulmonais bercabang-cabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masing-masing mengalir keparu kanan dan kiri. Di paru arteri pulmonalis bercabang-cabang berkali-kali menjadi erteriol dan kemudian kapiler. Setiap kapiler memberi perfusi kepada saluan pernapasan, melalui sebuah alveolus, semua kapiler menyatu kembali untuk menjadi venula, dan venula menjadi vena. Vena-vena menyatu untuk membentuk vena pulmonalis yang besar.
Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali keatrium kiri untuk menyelesaikan siklus aliran darah. Jantung, sirkulasi sistemik, dan sirkulasi paru. Tekanan darah pulmoner sekitar 15 mmHg. Fungsi sirkulasi paru adalah karbondioksida dikeluarkan dari darah dan oksigen diserap, melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi sistemik dan par, maka suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa dapat berlangsung bagi semua sel.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen
1.      Faktor Fisiologi
a)      Menurunnya kapasitas pengikatan O2 seperti anemia
b)      Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran napas bagian atas
c)      Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transpor O2 terganggu
d)      Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka dan lain-lain.
e)      Kondisi yang mempengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan, obersitas, musculus skeleton yang abnormal, penyakit kronik seperti TBC paru
2.      Faktor Perkembangan
a)      Bayi prematur: yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan
b)      Bayi dan toodler: adanya resiko infeksi saluran pernafasan akut
c)      Anak usia sekolah dan remaja , resiko saluran pernafasan dan merokok
d)      Dewasa muda dan pertenggahan: diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru
e)      Dewasa tua: adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun
3.      Faktor Prilaku
a)      Nutrisi
misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang terlalu tinggi lemak menimbulkan arteriosklerosis.
b)      Exercise (olahraga berlebih): Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen
c)      Merokok: nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan koroner
d)      Substance abuse (alkohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi (Fe)
menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depesi pusat pernafasan
e)      Kecemasan: menyebabkan metabolisme meningkat
4.      Faktor Lingkungan
a)      Tempat kerja (polusi)
b)      Suhu lingkungan
c)      Ketinggian tempat dari permukaan laut

  1. Perubahan Fungsi Jantung
Perubahan-perubahan fungsi jantung yang mempengaruhi kebutuhan oksigenasi adalah sebagai berikut:
a)      Gangguan Konduksi
b)      Gangguan konduksi (hantaran) seperti distritmia (takikardia/bradikardia)
c)      Perubahan Cardiac Output (Curah Jantung)
d)      Menurunnya cardiac output seperti pada pasien dekom menimbulkan hipoksia Jaringan.
e)      Kerusakan fungsi katub seperti pada stenosis, obstruksi, regurgitasi darah yang mengakibatkan vetrikel bekerja lebih keras.
f)       Myocardial iskhemial infrark mengakibatkan kekurangan pasokan darah dari arteri koroner ke miokardium.

  1. Perubahan Fungsi Pernafasan
1.      Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena :
a)      Kecemasan
b)      Infeksi / sepsis
c)      Keracunan obat-obatan
d)      Kertidakseimbangan asam basa seperti pada asidosis metabolis
Tanda-tanda dan gejala hiperventilasi adalah takikardia, napas pendek, nyeri dada (chest pain), menurunnya konsentrasi, disorientasi, tinnitus.
2.      Hipoventilasi
Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup, biasanya terjadi pada keadaan atelektasis (kolaps paru).
Tanda-tanda dan gejala pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi, kardiakdistritma, ketidakseimbangan elektrolit, kejang, dan kardiak arrest.
3.      Hipoksia
Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi atau meningkatnya penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan oleh:
a)      Menurunya hemoglobin
b)      Berkurangnya konsentrasi O2 jika berada di puncak gunung
c)      Ketidakmampuan jaringan mengikat O2 seperti keracunan sianida
d)      Menurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah seperti pada pneumonia
e)      Menurunnya perfusi jaringan seperti syok
f)       Kerusakan / gangguan ventilasi
Tanda-tanda hipoksia antara lain : kelelehan, kecemasan, menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan cepat dan dalam, sianosis dan clubbing.

BAB IX
MOBILISASI


  1. Pengertian Mobilisasi
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan
dengan bebas, mudah dan teratur (kosier, 1989).

  1. Tujuan Dari Mobilisasi
1.      Memenuhi kebutuhan dasar manusia
2.      Mencegah terjadinya trauma
3.      Mempertahankan tingkat kesehatan
4.      Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari ± hari
5.      Mencgah hilangnya kemampuan fungsi tubuh ketahanan otot dan kekuatan
otot.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mobilisasi
1.      Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas seseorang, karena gaya hidup berdampak pada perilaku dan kebiasaan.
Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilisasi seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk.
2.      Proses penyakit dan injuri
Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilisasinya karena dapat mempengaruhi fungsi system tubuh misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya; CVA  yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler.
3.      Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilisasinya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda mobilisasinya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya.
4.      Tingkat energy
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi sakit akan berbeda mobilisasinya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
5.      Usia dan statusperkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilisasiny dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.

  1. Jenis-Jenis Mobilisasi
1.      Mobilisasi penuh
Mobilisasi penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilisasi penuh ini merupakan fungsi saraf motoris volunteer dan sensoris untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2.      Mobilisasi sebagian
Mobilisasi sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan yang jelas sehingga tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motoris dan sensoris pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapat mengalami mobilisasi sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motoris dan sensoris. Mobilisasi sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a)      Mobilisasi sebagian temporer merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatr.ya sementara. Hal tersebut dapat : disebabkan oleh trauma reversibe) pada sistem muskuloskeletal, seperti adanya dislokasi sendi dan tulang.
b)      Mobilisasi sebagian permanen merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya tetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang irreversibel. Contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, dan untuk kasus poliomielitis terjadi karena terganggunya sistem saraf motdris dan sensoris.
3.      Mobilsasi yang dilakukan pada tubuh pasien berdasarkan:
a)      Aktive Room
·         Leher
ü  Fleksi: kepala digerakan menunduk kedepan 90 derajat dengan dagu
ü  diatas dada.
ü  Ekstensi: Kepala digerakan 90 derajat keatas dengan posisi lurus
ü  dengan badan
ü  Hypereksitensi : kepala ditarik kebelakang 90 derajat dengan posisi
ü  mengadah keatas
ü  Lateral fleksi: kepala ditekukan kesamping 90 derajat menuiu bahu
ü  Rotasi: kepala digerakan dalam posisi melingkar 90 derajat kekanan
ü  dan 90 derajat kekiri dan depan dari belakang.
·         Bahu
ü  Fleksi : lengan ditingkat 180 derajat dan samping menuju keatas
ü  sampai diatas kepaia
ü  Ekstensi : digerakan keposisi istirahat disamping badan
ü  Hyperekstensi: lengan digerakan kebelakang badan dengan sudut 50
ü  derajat
ü  Abduksi : lengan ditarik keatas samping badan dengan punggung tangan diaias, digerakan kesisi badan 180 derajat keposisi diatas kepala
ü  RotasiEksterna : dengan lengan disamping, tekukan siku, lengan digerakkan kedepan dan kebelakang 90 derajat sehingga telepak tangan menghadap kedepan.
ü  Rotasi interna : dengan lengan disamping tekukan siku, lengan digerakkan kebelakang 90 derajat sehingga felapak tangan menghadap kebelakang.
ü  Sinkumduksi : lengan digerakan dengan lingkaran 360 derajat diputar
ü  sepanjang sisi badan.
·         Siku
ü  Fleksi : siku ditekuk dengan telapak tangan menghadap muka, dengan
ü  sudut 150 derajat menuju bahu
ü  Ekstensi: siku dari posisi fleksi diluruskan kembali
·         Lengan Bawah
ü  Supinasi: lengan bawah diputar 90 derajat sampai telapak tangan
ü  menghadap kebawah
ü  Pronasi: lengan bawah diputar 90 derajat sampai telapak tangan kanan
ü  mengahadap kebawah.
·         Pergelangan Tangan
ü  Fleksi: Tangan ditekuk 90 derajat kebawah dengan telapak tangan
ü  mengahadap kebawah
ü  Ekstensi: tangan digerakan 90 aerajat dengan posisi lurus dengan
ü  lengan
ü  Hyperekstensi: tangan ditekuk keatas, punggung tangan diatas dengan
ü  sudut 90 derajat.
ü  Abduksi: pergelangan tangan, dengan jari-jari dirapatkan ditekuk
ü  keluar menuju ula
ü  Abduksi: pergelangan tangan dengan jari-jari dirapatkan ditekuk ke
ü  depan menuju radius.
·         Jari dan Ibu Jari
ü  Fleksi: Jari-jari digenggamkan
ü  Ekstensi: Jari digerakan 90 derajat lurus dengan lengan dengan
ü  telapak tangan menghadap ke bawah.
ü  Hyperekstensi : jari-jari dengan felapak tangan kebawah, ditekuk
ü  keatas menuju punggung tangan 45 derajat
ü  Abduksi: jan dan ibu /ari dibentangkan/direngangkan 30 derajat
ü  Abduksi: jari dan ibu jari dirapatkan bersama 30 derajat
ü  Posisi Ibu jari : ibu jari ditekuk kedalam memutar menuju kelingking
ü  dikuti oleh jari-jari yang lain.
·         Pinggul
ü  Fleksi : tungkai digerakan keatas kemuka 90 derajat
ü  Ekstensi : tungkai digerakan kembali ke posisi lurus sejajar dengan
ü  tubuh
ü  Hyperekstensi: tungkai digerakan kebelakang tubuh 50 derajat
ü  Sirkumduksi: tungkai digerakan dalam lingkaran 360 derajat
ü  Abduksi: iungkai digerakan kesamping menjauhi tubuh 45 derajat
ü  Abduksi: tungkai digerakan kesamping mendekati tubuh 45 derajat
ü  Rotasi Interna : tungkai dan kaki diputar kedalam 90 derajat
ü  RotasiEksterna : tungkai dan kaki diputar kedalam 90 derajat Lutut
ü  Fleksi. lutut ditekuk diangkat kebelakang dan atas 90 derajat
ü  Akstensi : Lutut digerakan kembali sejajar tubuh
·         Pergelangan Kaki
ü  PlanfarFleksi: kaki digerakan kebawah 45 derajat
ü  DorsiFleksi: kaki digerakan keatas 45 derajat
ü  Enversi: sisi luar kaki ditekuk kesamping keluar diputar
ü  Inversi: kaki diputar dengan sisi medial, diputar kedalam
·         Jari Kaki
ü  FIeksi jari-jari ditekuk kebawah 90 derajat
ü  Ekstensi : jari-jari sejajar kembali dengan punggung
ü  Hyperekstensi : jari-jari ditekuk keatas 45 derajat
ü  Abduksi : jari-jari digerakan menjauhi satu sama lain 15 derajat
ü  Abduksi : jari-jari digerakan menapat
·         Pinggang
ü  Fleksi pinggang ditekuk kedepan 90 derajat
ü  Ekstensi : pinggang diluruskan kembali
ü  Hyperekstensi: pinggang ditarik kebelakang 30 derajat
ü  LateralFleksi: tubuh ditarik kekedua sisi 45 derajat
ü  Rotasi : tangan dipinggang digerakan melingkar 360 derajat
b)      Passive Room
·         Lengan dan Bahu
Lengan klien disamping tubuh, tangan kanan penolong memegang pergelangan tangan pasien dan tangan kiri disiku pasien.
ü  Fleksi dan rotasi eksternai bahu
ü  Abduksi dan rotasi eksternai bahu
ü  Abduksi bahu
ü  Rotasi interna dan eksterna bahu
ü  FIeksi dan ekstensi siku
·         Tangan dan pergelangan tangan
Tangan kiri penolong diatas punggung tangan, tangan kanan memegang  jari-jari tangan :
ü  Hyperekstensi pergelangan tangan, fleksi jari-jari
ü  Hyperekstensi pergelangan tangan, ekstensi jari-jari
·         Pinggul dan Tungkai
Tangan kiri perawat dibawah lutut pasien dan memegangnya, tangan kanan perawat ditumit pasien untuk plantar fleksi, tangan kiri perawat diats pergelangan kaki pasien dan tangan kanan memegang jari kaki

ü  Plantar fleksi kaki
ü  Inversi dan eversi kaki
ü  Fleksi dan ekstensi jari kaki
ü  Posisi telungkup dan miring
ü  Hyperekstensi Bahu
ü  Hyperekstensi pinggul



























BAB X
KONSEP DASAR INFEKSI


A.    Definisi Infeksi
Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat paling membahayakan inang. Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakupbakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.
Beberapa jenis mikroorganisme (terutama bakteri) dapat berkembang biak, menyerang  hingga merusak jaringan sehingga menyebabkan ‘delayed healing’ yang akan kadang-kadang dapat pula menyebabkan penyakit sistemik. Kemampuan bakteri untuk menghasilkan efek yang merusak dipengaruhi oleh:
1.      Kemampuan system imunitas pasien untuk menyerang bakteri (host resistence).
2.      Jumlah bakteri pada luka, semakin banyak bakteri akan semakin beresiko. 
3.      Jenis bakteri pada luka. Beberapa bakteri memiliki kemampuan besar (virulensi) dibanding jenis lain dan dapat menyebabkan penyakit walaupun masih dalam jumlah yang sedikit

B.     Tanda-Tanda Infeksi
Gambaran makroskopik peradangan sudah diuraikan 2000 tahun yang lampau. Tanda-tanda radang ini oleh Celsus, seorang sarjana Roma yang hidup pada abad pertama sesudah Masehi, sudah dikenal dan disebut tanda-tanda radang utama. Tanda-tanda radang ini masih digunakan hingga saat ini. Tanda-tanda radang mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas), dolor (rasa sakit), dan tumor (pembengkakan). Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada abad terakhir yaitu functio laesa (perubahan fungsi) (Abrams, 1995; Rukmono, 1973; Mitchell & Cotran, 2003).
Umumnya, rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan. Sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut. Kalor disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab darah yang memiliki suhu 37oC disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami radang lebih banyak daripada ke daerah normal (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat meradang (Abrams, 1995; Rukmono, 1973).
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland, 2002).

Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang (Abrams, 1995).

Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.

D.     Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial
1.      Agen infeksi
Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:
·         Karakteristik mikroorganisme,
·         Resistensi terhadap zat-zat antibiotika, tingkat virulensi,
·         Dan banyaknya materi infeksius.
Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal.
2.      Bakteri
Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih.
Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Contohnya :
·         Anaerobik Gram-positif, Clostridium yang dapat menyebabkan gangrene
·         Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, pulang, jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
·         Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae, contohnya Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit.
·         Serratia marcescens, dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan peritoneum.
3.      Virus
Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan.
4.      Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan, contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus neoformans, Cryptosporidium.

E.     Respon Dan Toleransi Tubuh Pasien
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah:
• Umur
• Status imunitas penderita
• Penyakit yang diderita
• Obesitas dan malnutrisi
• Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid
• Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan
  terapi.
Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi.




F.       Infection By Direct Or Indirect Contact
Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan, kulit dan baju, seperti golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik, hepatitis dan HIV. Peralatan dan instrumen kedokteran. Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection.





























BAB XI
KONSEP DASAR ELIMINASI


  1. Eleminasi Urine
1.      Definisi
Eleminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra.Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urine. Ureter mengalirkan urine ke bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian dikeluarkan melalui uretra.

2.      Anatomi dan fisiologi Ginjal
Ginjal adalah dua organ kecil berbentuk seperti kacang buncis yang terletak pada sisi-sisi abdomen antara tulang rusuk kedua belas dan tulan belakanglumbal ketiga. Ginjal kanan terletak lebih rendah daripada ginjal kiri karena hati menekannya kebawah. Ginjal terdiri atas kapsul ginjal, cortex renalis (kulit luar) medulla renalis, dan sinus renalis. Cortex renalis adalah bagian luar anteriorn kapsul ginjal. Bagian ini berwarna pucat dan memiliki permukaan berbintik-bintik kecil. Nephron terletak pada bagian ini. Medulla renalis adalah bagian pusat dan biasanya disebut dengan pyramid ginjal. Piramid pada bagina inim meruncing dengan dasar menghadap cortex dan puncak menghadap bagian tengah ginjal. Bagian nephron dan tubulus renal terletak pada ruang ini. Renal sinus merupakan bagian interior yang terhubungkan dengan takik ginjal yang disebut dengan hilum.
Nephron adalah unit fungsional ginjal. Masing-masing ginjal mengandung sekitar 1 juta nephron (Burtucci, 1995). Nephron ikut terlibat dalam pembentukan urin. Nephron ini mengandung Corpuscolus renalis, tubulus renalis, dan duktus kolektif renalis. Corpusculus renalis mengandung glumerulus dan kapsul bowman. Tubulus renalis terdiri atas tubule konvolusi proksimal, loop hense dan tubule konvolusi distal. Duktus kolektif terletak didalam nephron. Ureter adalah kelanjutan pelvis renal pada hilum dan menghubungkan ginjal dengan kencing kemih. Ureter melakukan gerakan renstaltis otot polos yang diaktifkan oleh sisti saraf simpatis. Terdapat function ureterovosical dalam ureter yang mencegah agar urin tidak kembali masuk kedalam ginjal.
Ketika darah mengalir melalui kapiler glumelrulus, pada saat yang sama terjadi filtrasi plasma ginjal menerima sekitar 20% cardiac output, sekitar 1200 ml/mut aliran darah. Proses filtrasi ini disebut ultrafiltrasi. Volume glumerulus melakukan filtrasi kurang lebih 180ml/hari, dan 99% diantaranya diserap kembali oleh ginjal. Tingkat filtrasi glumerular (Gfn) adalah ukuran proses ini, Gfn dewasa rata-rata adalah 125 ml/jam.
Ketika darah yang telah terfilter memasuki kapsul Bowman glomeluri, maka terbentuklah urin primitive. Ketika ultrafiltrasi ini mengalir melalui nephron yang lainnya terjadi penyerapan kembali dan sekresi untuk memproduksi urin yang kita keluarkan Tubuke konklusi proksimal menyerap kembali seabagian besar air yang sudah terfilter dan juga elektrolot Loop Henle menyerap kemabali sodium. Tubule Konvolusi distal dan duktus kolektif menbentuk urin yang kemudian dialirkan kedaalm ureter. Ureter kemudian mengangkut urin menuju kandung kemih dengan gelombang peristaltis otot halus. Kandung kemih merupakan tempat penampungan urine. Terletak pada dasar panggul pada daerah retroperidontal dan terdiri atas otot-otot yang dapat mengecil. Kandung kemih terdiri atas 2 bagian yaitu bagian fundus / body yang merupakan otot lingkar, terdiri dari otot detrusor dan bagian leher yang berhubungan langsung dengan uretra. Pada leher kandung kemih terdapat spinter inerna. Spinter ini dikontrol oleh sistem saraf otonom. Kandung kemih dapat menampung 300 sampai 400 ml urine.
Kemudian dari ureter urine dialirkan ke uretra yang merupakan saluran pembuangan yang langsung keluar dari tubuh. Panjang uretra perempuan lebih pendek yaitu 3,7 cm sedangkan pada laki-laki panjangnya 20cm. Sehingga perempuan lebih beresiko untuk terjadi infeksi saluran kemih.

3.      Refleks Miksi
Kandung kemih dipersyarafi oleh saraf sacral 2 (S-2) dan sacral 3 (S-3). Saraf sensorik dari kandung kemih dikirim ke medula spinalis bagian sacral 2 sampai sacral 4 kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pada miksi mengirimkan sinyal kepada otak kendung kemih (detrusor) agar berkontraksi. Pada saat detrusor berkontraksi spinter interna relaksasi dan spinter eksterna yang dibawah control kesadaran akan berperan. Apakah mau miksi atau ditahan. Pada saat miksi otot abdominal berkontraksi bersama meningkatnya otot kandung kemih.
Pola Eleminasi Normal . Pola eleminasi urine sangat tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja, makan atau bangun tidur. Normalnya miksi dalam sehari sekitar 5 kali.
Karekteristik Urine Normal. Warna urine normal adalah kuning terang karena adanya pigmen urochorome. Namun demikian, warna urine tergantung pada intake cairan, keadaa dehidrasi konsentrasinya menjadi lebih pekat dan kecokletan, penggunaan obat-obatan tertentu seperti multivitamin dan preparat besi maka urine akan berubah menjadi kemerahan sampai kehitaman.
Bau urine normal adalah bau khas amoniak yang merupakan hasil pemecahan urea oleh bakteri. Pemberian pengobatan akan mempengaruhi bau urine.
Jumlah urine yang dikeluarkan tergantung pada usia, intake cairan, dan status kesehatan. Pada orang dewasa sekitar 1.200-1.500 ml per hari atau 150-600 ml per sekali miksinya.

4.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi
1.   Pertumbuhan dan Perkembangan
2. Sosiokultural
3. Psikologis
4. Kebiasaan seseorang
5. Tonus otot
6. Intake cairan dan makanan
7. Kondisi penyakit
8. Pembedahan
9. Pengobatan
10. Pemeriksaan Diagnostik

5.      Masalah-masalah Eleminasi Urine
a)      Retensi Urine
Merupakan penumpukan urine dalam blabber dan ketidakmampuan bladder untuk mengkosongkan kandung kemih.
b)       Inkontinensia Urine
Merupakan ketidakmampuan otot spinter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskesi urine.
c)       Enuresis
Merupakan ketidaksanggupan manahan kemih (mengompol) yang diakibatkan ketidakmampuan untuk mengendalikan spinter eksterna. Biasanya terjadi pada anak-anak dan juga pada orang jompo.
Perubahan Pola Berkemih
1.      Frekuensi
2.      Urgency
3.      Dysuria
4.      Polyuria
5.      Urinary Suppresion

  1. Eleminasi Feses/Bowel/Alvi
1.      Definisi
Eleminasi bowel adalah pembuangan sisa metabolisme makanan dari dalam tubuh yang tidak dibutuhkan lagi dalam bentuk bowel (feses). Organ-organ yang berperan dalam pembuangan eleminasai bowel adalah Saluran Gastrointestinal yang dimulai dari mulut sampai anus.

2.      Anatomi dan Fisiologi
a)      Saluran Gastrointestinal Bagian Atas
Makanan yang masuk akan dicerna secara mekanik dan kimiawi dimulut dan di lambung dengan bantuan enzim, asam lambung. Selanjutnya makanan yang sudah dalam bentuk chyme didorong ke usus halus.
b)      Saluran Gastrointesrinal Bagia Bawah
Saluran Gastrointestinal bawah meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri atas Duodenum, Yeyenum, dan Ileum yana panjangnya kira-kira 6 meter dan diameter 2,5 cm. Usus besar terdiri atas cecum, colon, dan rectum yang kemudian bermuara pada anus. Penjang usus besar sekitar 1,5 meter dan diameternya kira-kira 6 cm. Usus menerima zat makanan yang sudah berbentuk cyme (setengah padat) dari lambung untuk mengabsorpsi air, nutrien dan elektrolit. Usus sendiri mensekresi mucus, potassium, bikarbonat dan enzim.
Cyme bergerak karena adanya peristaltik usus dan akan berkumpul menjadi feses di usus besar. Dari kita makan samapai mencapai rectum normalnya diperlukan waktu 12 jam. Gerakan colon terbagi menjadi 3 yaitu : Haustral Shuffing adalah gerakan mencapur cyme untuk membantu absorpsi air, Kontraksi Haustral adalah gerakan untuk mendorong materi cair dan semipadat sepanjang colon, Gerakan Peristaltik adalah berupa gelombang, gerakan maju menuju anus.

3.      Proses Defekasi
Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melaului anus. Dalam proses Defekasi terjadi dalam 2 macam refleks yaitu :
a)      Refleks Defekasi Intrinsik
Refleks ini berawal dari feses yang masuk ke rectum sehingga terjadi distensi rectum, yang kemudian menyebabkan rangsangan pada fleksus mesentrikus dan terjadilah gerakan peristaltic. Setelah feses tiba di anus, secara sistematis spinter interna relaksasi maka terjadilah defekasi.
b)      Reflek Defekasi Parasimpatis
Feses yang masuk akan merangsang saraf rektum yang kemudian diteruskan ke spinal cord. Dari spindal cord kemudian dikembalikan ke colon desenden, sigmoid dan rektum yang menyebabkan intesifnya peristaltik, relaksasi spinter internal maka terjadilah defekasi.
Dorongan feses juga dipengaruhi oleh kontraksi otot abdomen, tekanan diafragma, dan kontraksi otot elevator. Defekasi dipermudah oleh fleksi otot femur dan posisi jongkok. Gas yang dihasilkan dalam proses pencernaan normalnya 7 – 10 liter/ 24 jam. Jenis gas yang dikeluarkan adalah CO2, Metana, H2S dan Nitrogen. Feses terdiri atas 75 % air dan 25% materi padat. Feses normalnya berwarna coklat karena pengaruh dari mikroorganisme. Konsistensinya lembek namun berbentuk.

4.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruh Eleminasi Bowel
a)      Usia
Pada usia bayi kontrol defekasi belum berkembang, sedangkan pada usia lanjut kontrol defekasi menurun.
b)      Diet
Makanan yang berserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh juga mempengaruhi proses defekasi.
c)      Intake Cairan
Intake cairan yang berkurang akan menyebabkan feses menjadi lebih keras, disebabkan karena absorbsi cairan yang meningkat.
d)      Aktivitas
Tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma akan sangat membantu proses defekasi. Gerakan peristaltik akan memudahkan bahan feses bergerak sepnjang colon.
e)      Fisiologis
Keadan cemas, takut dan marah akan meningkatkan peristaltik, sehingga menyebabkan diare.
f)       Pengobatan
Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan diare dan konstipasi.
g)      Gaya Hidup
Kebiasaan untuk melatih pola BAB sejak kecil secara teratur, fasilitas untuk BAB dan kebiasaan menahan BAB.
h)      Prosedur Diagnostik
Klien yang akan dilakukan diagnostik biasanya dipuaskan atau dilakukan klisma dahulu agar tidak BAB kecuali setelah makan.
i)        Penyakit
Beberapa penyakit pencernaan dapat menimbulkan diare dan konstipasi.
j)         Anestesi dan Pembedahan
Anestesi umum dapat menghalangi impuls parasimpatis, sehingga kadang-kadang dapat menyebabkan ileus usus. Kondisi ini dapat berlangsung selama 24 jam.
k)      Nyeri
Pengalaman nyeri waktu BAB seperti adanya hemoroid, faktur ospubis, epesiotomi akan menghalangi keinginan untuk BAB.
l)        Kerusakan sensorik dan motorik
Kerusakan spinal cord dan injury kepala akan menimbulkan penurunan stimulus sensorik untuk defekasi.

5.      Masalah Eleminasi Bowel
a)      Konstipasi
Gangguan eleminasi yang diakibatkan adanya feses yang kering dan keras melalui usus besar. Biasanya disebabkan oleh pola defekasi yang tidak teratur, penggunaan laksatif yang lama, stres, psikologis, obat-obatan, kurang aktivitas, usia.
b)      Fecal Infaction
Masa keras yang dilipatan rektum yang mengakibatkan oleh retensi dan akumulasi material feses yang berkepanjangan.
c)      Diare
Keluarnya feses cairan dan meningkatnya frekuensi BAB akibat cepatnya chyme melewati usus, sehingga usus besar tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyerap air.
d)      Inkontinensia Alvi
Hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas yang melalui saraf spinter anus
e)       Kembung
Flatus yang berlebihan didaerah intestinal sehingga menyebabkan disetnsi intestinal, dapat disebabkan karena konstipasi, penggunaan obat-obatan dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gas.
f)       Hemorroid
Pelebaran vena didaerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan didaerah tersebut.








BAB XII
KONSEP DASAR ISTIRAHAT & TIDUR

A.    Definisi Istirahat Dan Tidur
Istirahat adalah suatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat badan menjadi lebih segar. Sedangkan Tidur adalah suatu keadaan yang relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda.
Tahapan Tidur, EEG, EMG, dan EOG dapat mengidentifikasi perbedaan signal pada level otak, otot dan aktivitas masa. Normalnya tidur dibagi menjadi 2 yaitu : Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement. Selama masa NREM seseorang terbagi menjadi 4 tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahapan REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur berakhir.

B.     Tahapan Tidur
  1. NREM tahap 1
- Tingkat transisi
- Merespon cahaya
- Berlangsung beberapa menit
- Mudah terbangun dengan rangsangan
- Aktivitas fisik menurun, tanda vital dan metabolisme menurun
- Bila terbangun terasa sedang bermimpi
  1. NREM tahap 2
- Periode suara tidur
- Mulai relaksasi otot
- Berlangsung 10-20 menit
- Fungdi tubuh berlangsung lambat
- Dapat dibangunkan dengan mudah
  1. NREM tahap 3
- Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak
- Sulit dibangunkan
- Relaksasi otot menyeluruh
- Tekanan daraj menurun
- Berlangsung 15-30 menit



  1. NREM tahap 4
- Tidur nyenyak
- Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif
- Untuk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun
  1. Tahapan Tidur REM
a. Lebih sulit untuk dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM
b. Pada orang dewasa normal REM yaitu 20-25% dari tidur malamnya
c. Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi mimpi
d. Tidur REM penting untuk kesimbangan mental, emosi juga berperan dalam      belajar, memory dan adaptasi.
  1. Karakteristik tidur REM
a.       Mata : Cepat tertutup dan terbuka
b. Otot-otot : Kejang otot kecil, otot besar imobilisasi
c. Penapasan : Tidak teratur, kadang dengan apnea
d. Nadi : Cepat dan ireguler
e. Tekanan darah : Meningkat atau fluktasi
f. Sekkresi gaster : Meningkat
g. Metabolisme : Meningkat, temperatur tubuh baik
h. Gelombang otak : EEG aktif
i. Siklus Tidur : Sulit dibangunkan

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tidur
1. Penyakit
2. Lingkungan
3. Motivasi
4. Kelelahan
5. Kecemasan
6. Alkohol
7. Obat-oabtan
- Dieuretik menyebabkan insomnia
- Anti Depresan : supresi REM
- Kafein : meningkatkan saraf parasimpatis
- Beta Bloker : menimbulkan insomnia
- Narkotika : mensupresi REM



D.     Gangguan Tidur
1.      Insomnia
Ketidakmampuan memperoleh sacara cukup kualitas dan kuantitas tidur.
2.      Hipersomia
Berlebihan jam tidur pada malam hari, lebih dari 9 jam, biasanya disebabkan oleh depresi, kerusakan saraf tepi, beberapa penyakit ginjal, liver, dan metabolism
3.      Parasomia
Merupakan sekumpulan penyakit yang mengganggu tidur anak seperti samnohebalisme (tidur sambil berjalan)
4.       Narcolepsy
Suatu keadaan / kondisi yang ditandai oleh keinginan yang tidak terkendali untuk tidur, misalnya tidur secara mendadak.
5.      Apnoe tidur dan mendengkur
Mendengkur bukan dianggap sebagai gangguan tidur, namun bila disertai dengan apnoe maka akan bisa menjadi masalah.
6.      Mengigau
Hampir semua orang pernah mengigau, hal ini terjadi sebelum tidur REM



















BAB XIII
KONSEP PERSONAL HYGIENE

A.    Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat pentinu dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan.
Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseoang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseoran untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

B.     Fisiologi Kulit
Sistem integumen terdiri atas kulit, lapisan subkutan di bawah kulit dan pelengkapnya, seperti kelenjar dan kuku. Kulit terdiri atas 2 lapisan yaitu lapisan epidermis yang terdapat pada bagian atas yang banyak mengandung sel-sel epitel. Sel-sel epitel ini mudah sekali mengalami regenerasi. Lapisan ini tidak mengandung pembuluh darah. Lapisan kedua adalah lapisan dermis yang terdiri atas jaringan otot, saraf folikel rambut dan kelenjar. Pada kulit terdapat 2 kelenjar: pertama kelnejar sebasea yang menghasilkan minyak yang disebut sebun yang berfungsi meminyaki kulit dan rambut. Kedua, kelenjar serumen yang terdapat dalam telingga yang berfungsi sebagai pelumas dan berwarna cokelat. Fungsi Kulit:
1.      Proteksi tubuh
2.      Pengaturan temperatur tubuh
3.      Pengeluaran pembuangan air
4.      Sensasi dari stimulus lingkungan
5.      Membantu keseimbangan carian da eletrolit
6.      Memproduksi dan mengabsorpsi vitamin D


C.    Macam-macam Personal Hygiene
1.      Perawatan kulit kepala dan rambut
2.      Perawatan mata
3.      Perawatan hidung
4.      Perawatan telingga
5.      Perawatan kuku kaki dan tangan
6.      Perawatan genetalia
7.      Perawatan kulit seruruh tubuh
8.      Perawatan tubuh secara keseluruhan

D.    Tujuan Personal Hygiene
1.      Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
2.      Memelihara kebersihan diri seseorang
3.      Memperbaiki personal hyiene yang kurang
4.      Mencagah penyakit
5.      Menciptakan keindahan
6.      Meningkatkan rasa percaya
E.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
1)      Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
2)      Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola Personal Hygiene
3)      Status sosial-ekonomi
Personal Hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya
4)      Pengetahuan
Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita DM ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5)      Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan.
6)      Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain.
7)      Kondisi fisik
Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

F.      Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Hyiene
1)      Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
2)      Dampak Psikososial
Masalah social yang berhubungan dengan Personal Hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial






















DAFTAR PUSTAKA


·         H. Aziz Alimul. A. Kebutuhan Dasar Manusia, Aplikasi konsep dan Proses keperawatan. Buku I, Jakarta, Salemba Medika. 2006
·         Tarwoto, Wartonah. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Salemba Mardika tahun 2006.
·         Hidayat, Aziz Alimul. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba Mardika 2007
·         Perry, Potter. Fundamental of nursing Edisi 4. Volume 1 & 2. Jakarta : EGC. 1997


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar